Mei 17, 2021
Hafalan

6 Cara Para Ulama dalam Menjaga Hafalannya

Suatu hal yang lumrah jika seseorang itu bisa menghafal. Tapi, berapa banyak orang yang bisa menjaga hafalan dalam jangka waktu yang lama? Memang, masalah utama bagi seseorang yang telah berhasil menghafal suatu tulisan atau apapun itu adalah cara mempertahankan hafalannya tersebut.

Mungkin terlihat sulit. Tapi, para ulama dari dulu telah memberikan berbagai cara dalam mempertahankan hafalan. Bagaimana mereka hafal ribuan bahkan jutaan hadis, hafal Al-Quran, atau hafal berbagai maqolah-maqolah dari berbagai disiplin ilmu, sampai ajal menjemput pun masih segar dalam ingatan mereka.

Berikut saya paparkan beberapa cara dari para ulama dalam menjaga hafalannya, yang saya ulas dari buku berjudul ‘Rahasia di Balik Hafalan Para Ulama’ karya Ustadz Cece Abdulwaly.

Mengulang-ulang Hafalan hingga Puluhan bahkan Ratusan Kali

Cara yang paling tepat dalam memelihara dan meningkatkan hafalan adalah dengan terus dibaca berulang kali. Jangankan yang sudah dihafal, yang belum pernah dihafal aja, jika sering dibaca berulangkali maka dengan sendirinya akan terhafalkan. Sebagian besar, orang yang hilang atau lupa dengan hafalannya, dikarenakan tidak konsisten dalam muraja’ah (membaca ulang hafalan).

Diceritakan dari kitap Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, bahwa  ahli hadis terkemuka, Abu Bakr ibn Syaibah, dalam setiap menghafalkan hadis beliau melakukan pengulangan selama lima ratus kali.

Memperdengarkan Hafalan kepada Orang Lain

Sesekali, seseorang yang telah hafal sesuatu, alangkah baiknya memperdengarkan hafalannya kepada orang lain. Tujuannya, agar orang lain tersebut bisa menyimak dan membenarkan hafalannya jika ada kesalahan. Banyak di antaranya orang yang hanya berfokus pada menghafal dan pengulangan hafalan, sehingga seringkali tidak tahu bahwa terdapat kesalahan dalam hafalannya.

Sering Memandangi Tulisan yang Dihafal

Dalam kitab Siyar A’lam an-Nubula’ karya Adz-Dzahabi, dikatakan bahwa Imam Bukhori tidak tahu sesuatu yang lebih menguatkan hafalan kecuali adanya keinginan kuat dari diri seseorang dan sering-sering memandang tulisan yang dihafal.

Memang, ketika seseorang yang menghafal sering melihat tulisan-tulisan yang dihafalnya, maka akan sangat cepat mengingat hafalannya. Bahkan baris dan bentuk tulisannya akan mudah terbayang dalam pikiran-pikirannya.

Banyak Mengkhatamkan Al-Quran dalam Shalat Malam

Sebenarnya, orang yang menghafalkan Al-Quran mempunyai keuntungan yang besar. Susunan dari huruf dan ayat-ayatnya, jika dihafalkan mampu memperbaiki sel-sel saraf otak bagian penyimpan memori, sehingga semakin mudah dalam menghafal. Bisa dibuktikan, seseorang yang telah hafal Al-Quran jika disuruh menghafalkan hal-hal lain maka akan cepat hafal.

Sholat malam, memang waktu yang tepat untuk mengulang hafalan Al-Quran. Dengan waktu yang tenang dan suasana yang syahdu, memungkinkan untuk bisa fokus dan lancar dalam menghafal. Karena termasuk sunah shalat (dalam sholat sendirian) adalah membaca ayat-ayat Al-Quran yang panjang dan penuh penghayatan.

Di antara para ulama yang sering mengkhatamkan Al-Quran dalam sholat adalah Imam Abu Hanifah, pendiri Madzhab Hanafi. Dalam kitab Manaqib al-Imam Abi Hanifah wa Shahibif  karya Adz-Dzahabi, dikatakan bahwa Abu Hanifah terbiasa mengkhatamkan Al-Quran tiap malam hanya dalam satu rakaat saja.

Memelihara Hafalan dengan Mengamalkan Isinya

Dalam menghafalkan buku atau kitab-kitab yang berisi suatu ajaran atau nasihat, merupakan kewajiban untuk mengamalkan isinya. Ilmu yang memiliki kemaslahatan untuk manusia tidak hanya wajib dipelajari, tapi juga harus diamalkan.

Mengamalkan yang sudah dihafal, akan senantiasa membuat hafalan terjaga dan terpelihara dengan baik, bahkan semakin melekat kuat dalam ingatan penghafalnya. Seseorang yang dengan senantiasa ikhlas mengamalkan apa yang dihafalkannya, sejatinya ia sedang berusaha menjadikan hafalan yang dimilikinya terpahat kuat dalam otak dan hati sehingga tetap akan lestari.

Mengajarkannya kepada Orang Lain

Dalam Islam, adalah suatu kewajiban mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Bahkan Rasulullah SAW memberikan ancaman bagi seseorang yang punya ilmu tapi tidak mau mengajarkannya.

Beliau SAW bersabda, “Barang siapa yang menyembunyikan suatu ilmu yang dengan ilmu itu Allah SWT memberi manfaat kepada manusia di dalam urusan agama, maka pada hari kiamat nanti, Allah SWT akan mengendalikannya dengan kendali api neraka.” (HR. Ibnu Majah)

Sejatinya, mengajarkan ilmu kepada orang lain secara tak langsung telah memaksa orang yang memiliki ilmu tersebut untuk kembali mengingat hafalannya. Bagaimana ia mengajarkan ilmu kepada orang lain jika dirinya sendiri aja tidak hafal?

Sumber Gambar : Republika

Pilihan Lain

Leave a Comment