Bondowoso| Lensarakyat.id – Ancaman tanah longsor yang membayangi ruas jalan di lingkungan RT. 08 RW. 09 Desa Kabuaran, Kecamatan Grujugan, Kab. Bondowoso, akhirnya mendapat respons nyata dari pemerintah desa. Untuk memastikan akses warga tetap lancar serta menjaga roda perekonomian desa, Kepala Desa Kabuaran, Sujono, secara tegas mengalokasikan Dana Desa tahun anggaran 2026 untuk pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di titik rawan tersebut.
Keputusan ini diambil setelah melihat kondisi kontur tanah di sekitar jalan desa yang semakin kritis. Jika dibiarkan, dikhawatirkan material longsor dapat menutup badan jalan, menghambat mobilitas kendaraan, dan memutus jalur distribusi barang antarwilayah.

“Pembangunan TPT ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi investasi keselamatan dan kelancaran akses masyarakat. Kita tidak mau menunggu sampai jalan benar-benar tertimbun longsor yang justru akan merugikan banyak pihak,” ujar Sujono saat ditemui di balai desa, rabu (17/6).
Menurutnya, keberadaan tembok penahan ini sangat vital. Selain menahan gerakan tanah, proyek ini juga diharapkan memberikan rasa aman bagi pengguna jalan, terutama para petani dan pelaku usaha mikro yang setiap hari melintas untuk mengangkut hasil bumi.
Langkah strategis Kepala Desa Kabuaran tersebut langsung mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kecamatan Grujugan. Sekretaris Camat (Sekcam) Grujugan, Marcos DA Costa, S. Sos., membenarkan bahwa program ini sejalan dengan upaya mitigasi bencana yang tengah digencarkan di wilayah kecamatan.
“Kami mengapresiasi inisiatif Pak Sujono yang mampu membaca kebutuhan mendesak warganya. Pembangunan TPT sepanjang kurang lebih 50 Meter tinggi 60. Cm ini merupakan contoh nyata penggunaan Dana Desa yang tepat sasaran, yaitu untuk kepentingan publik dan keselamatan bersama,” ungkap Marcos.
Tak hanya pemerintah, kebijakan ini pun menuai pujian dari masyarakat setempat. Salah satu warga RT. 08 RW. 09, Joni, mengaku sangat mengapresiasi alokasi dana tersebut. Menurutnya, dampak pembangunan ini terasa ganda. Pertama, secara makro, kelancaran jalan akan menjaga stabilitas harga dan distribusi logistik di desa. Kedua, secara mikro, proyek ini membuka lapangan kerja bagi warga sekitar yang terlibat dalam proses pengerjaan.
“Kami sangat bersyukur. Selain jalanan lebih aman, adanya proyek ini setidaknya mampu mengurangi beban ekonomi warga yang kebetulan mendapat pekerjaan sebagai kuli bangunan atau tukang. Ini berkah yang tidak terduga,” tutur Joni dengan antusias.
Dengan dimulainya pembangunan TPT yang direncanakan pada awal tahun anggaran 2026, diharapkan jalan desa di Kabuaran akan terbebas dari risiko longsor, sekaligus menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat dalam membangun ketahanan infrastruktur berbasis kebutuhan lapangan.
Tim Liputan : Pembangunan Dana Desa Editor : Bam” z








