Mei 17, 2021
Membaca Makna

Abstraksi “Membaca Makna”

Setiap kita melakukan aktivitas “membaca”, sesungguhnya melakukan pembacaan terhadap “makna” yang dimunculkan dari objek yang kita baca. Setiap “arti” juga mengandung “makna”, namun “makna” yang melekat langsung dengan obyek. ada hubungan sebab-akibat yang dapat dicari hubungannya secara gamblang.

Sementara itu, “makna” dari suatu objek ada yang menabirinya, yang tiada lain justru ditabiri oleh “arti” itu sendiri, “Makna” selalu didahului oleh “arti”. Melalui “arti”-lah “makna” dapat ditafsirkan. “Kursi” dalam perspektif “arti” ialah suatu benda yang dijadikan tempat untuk duduk. Dalam perspektif “makna”, “kursi” menjadi lambang yang dilambangkan lagi, misalnya bermakna “kekuasaan” sebab “penguasa” berarti menduduki suatu tempat, yaitu jabatannya: dan “menduduki” berarti menempati “kursi”. Demikianlah, maka “kursi” sebagai teks dapat dicarikan “makna” -nya dengan memberi tafsir, yang variabel-variabel dari penafsirannya berhubungan dengan konteks-nya, dan kontekstualisasi pemaknaan terhadap “kursi’ sebagai teks berhubungan dengan teks-teks lain yang hidup dalam masyarakat-budayanya.

Bahasa yang digunakan penyair dalam puisinya, sebelum dijadikan medium puisi telah memiliki “arti” yang disepakati oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang telah memiliki “arti” itu digunakan untuk mengungkapkan “sesuatu” oleh penyair di dalam puisinya. Namun, “makna” yang dimaksudkan penyair dalam puisinya dibandingkan dengan yang dimaksudkan pembaca bisa saja terjadi perbedaan sebab adanya subjektivitas masing-masing penafsir dalam memaknakan “sesuatu” yang sama.

Misalnya, dalam sebuah sajak disebutkan kata “matahari”. pi dalam perspektif “arti”, kata “matahari” diartikan oleh masyarakat pembaca sebagai “benda yang amat besar di langit dan berpijar sehingga cahayanya menerangi dunia”. Dalam perspektif “makna”, kata “matahari” dimaknakan oleh masyarakat pembaca sebagai “harapan”, “petunjuk”, atau pada pokoknya hal-hal yang baik dan mencerahkan. Tetapi, dalam konteks perpuisian D. Zawawi Imron, terutama buku Bulan Tertusuk Lalang, Nenekmoyangku Airmata, dan Celurit Emas, kata “matahari” dipersepsi dan diposisikan oleh penyair sebagai hal yang menjadikan musim kemarau, meranggaskan tanah dan dedaunan, mendahagakan manusia dan segala yang hidup, memutusasakan, bahkan membakar lingkungan. Mengapa pemaknaannya menjadi spesifik? Tentu pemaknaan D. Zawawi Imron terhadap “matahari” memiliki hubungan dengan subjektivitas pengalaman dia sebagai pribadi, sebagai orang Madura, sebagai orang Indonesia, yang membentuknya menjadi sebuah kepribadian D. Zawawi Imron.

Oleh sebab itu, membaca puisi sesungguhnya “Membaca Makna” terhadap “pemaknaan yang dilakukan penyair kepada sesuatu’ yang dia jadikan bahan puisinya”. Penyair menyebut “sesuatu” (“melati” misalnya) akan didasarkan pemaknaan dan sudut-pandang penyair, yang pemaknaannya dia tampilkan menjadi fragmen-fragmen di dalam puisinya. Dengan begitu, apakah bahasa puisi menjadi subjektif? Iya, tetapi justru dengan subjektivitas itulah bahasa puisi seorang penyair menjadi unik, spesifik, sekaligus indah. Nilai keindahan puisi justru dinilai dari ekspresi bahasa dan pemikirannya yang memiliki subjektivitas, dan oleh sebab itu menjadi khas.

Karena “membaca puisi adalah memaknai hasil pemaknaan penyair terhadap sesuatu”, maka pemaknaan puisi yang dilakukan pembaca pun menjadi subjektif. Sekalipun pembaca sudah berupaya untuk objektif dalam menyikapi teks puisi: tetapi, tatkala pembaca mencari hubungan teks puisi dengan teks lain (konteksnya) yang menghidupinya: apalagi tatkala melakukan kontekstualisasi antara teks puisi dengan teks lain Saat ini dan di sini yang melingkunginya, yang memungkinkan teks puisi itu lebih dapat dimaknai pembaca, dalam posisi demikian, pastilah pembaca tidak dapat objektif sebab dia sendiri adalah sebuah teks yang dihidupi (sekaligus menghidupi) teks lain dalam lingkungan masyarakat budayanya, yang boleh jadi berbeda dengan latar kultur dari teks puisi yang dihadapinya.

Di dalam situasi dan posisi demikian, puisi sebagai teks yang hidup sehingga menjadi berinterpretasi-banyak (poly interpretable). Oleh sebab itu, validitas suatu interpretasi terhadap puisi sebagai teks akan sangat tergantung kepada validitas argumentasinya. Dari interpretasi yang banyak itu, pembaca melakukan pemaknaan-versi dirinya. Apakah begitu subjektifnya bahasa yang dipakai penyair dalam puisinya sehingga pemaknaan yang dilakukan oleh pembaca juga menjadi amat subjektif? Tentu saja tidak, sebab:

  1. Pembaca adalah sebuah teks yang dihidupi (sekaligus menghidupi) teks lain dalam lingkungan masyarakat budayanya, pembaca menjadi pribadi yang memiliki (sekaligus dimiliki) masyarakat-budayanya. Wacana dan sikap budaya itu ada yang memiliki sifat universal sekaligus khusus sehingga dalam kekhasannya masih dapat dimaknai oleh manusia dari masyarakat-budaya lain, dan ada yang memiliki sifat khusus saja sehingga khas dan tertutup.
  2. Begitu pula dengan teks puisi yang ditulis oleh penyair, tatkala penyair menyebut “sesuatu” dengan makna tertentu pun sesungguhnya tidak melepas diri dari makna umum yang disepakati masyarakat-budayanya, karenanya teks puisinya khas sekaligus universal sehingga dalam kekhasannya masih dapat dimaknai bahkan oleh pembaca dari masyarakat-budaya lain.

Relasi pemaknaan menjadi kompleks antarteks. Di satu sisi, teks puisi ditulis oleh penyair dengan memperhitungkan konteksnya. Di sisi lain, pemaknaan puisi oleh pembaca merupakan pemaknaan-versi dirinya, dengan memperhitungkan hubungan ntarteks, yaitu: teks yang menghidupi teks puisi, dan teks lain yang hidup pada saat ini dan di sini tempat pembaca hidup bermasyarakat-budaya. Pembaca dalam hal ini melakukan kontekstualisasi.

Dengan demikian, “Membaca Makna” sangat tergantung kepada wawasan pembaca terhadap sesuatu yang dihadapinya teks), dan teks-teks yang berhubungan dengan teks yang dihadapinya (konteks), serta mengaitkannya dengan teks-teks yang menghidupi dirinya selaku pembaca (kontekstualisasiy, Melalui pemahaman “Membaca Makna” yang demiki anlah kita akan mempersepsi dan memposisikan Perpuisian dan kepenyairan Indonesia. Beberapa di antaranya saya apresiasi, bahkan saya nilai baik dan buruknya dari aspek kesastraannya ataupun dari aspek pemikirannya di dalam buku ini.

Yogyakarta, 17 Maret 2005 AWBS

Sumber: Sastra Pencerahan 

 

Pilihan Lain

Leave a Comment