Mei 17, 2021
Gerakan Cendikiawan Umat Muslim Kontemporer

Cendekiawan Muslim Kontemporer: Merevisi Tafsir nir-Kontekstualis

Lensarakyat.id – Peradaban umat Islam, sudah lama terpuruk. Segala lini kehidupan, seakan semua dikuasi orang-orang non-Muslim, terlebih Eropa, Amerika, dan China. Penjajahan yang dulunya berupa fisik, sekarang berubah menjadi penjajahan ideologi, budaya, dan ekonomi. Menurut Abdullah Saeed—cendekiawan Muslim jebolan University of Melbourne—mengatakan bahwa dunia ini sejak 150 tahun yang lalu telah mengalami banyak perubahan drastis dalam semua ekosistem kehidupan. Sebabnya antara lain yaitu terkait dengan globalisasi, penemuan-penemuan arkeologis, evolusi dan genetika, pendidikan umum dan tingkat literasi umat manusia.

Di atas semuanya, kampanye tentang humanisme dan dialog antar agama semakin ramai, munculnya konsep-konsep negara-bangsa yang berdampak pada kesetaraan dan perlakuan terhadap warga negara, kesetaraan gender, dan begitu seterusnya. Dari semua perubahan tersebut, umat Muslim secara keseluruhan belum bisa merespon dengan baik. Sehingga, cenderung pada pola pikir yang lama tanpa ada adaptasi terhadap perkembangan zaman tersebut.

Kata jumud, seringkali terlabel pada umat Islam. Saya kira, memanglah tepat. Umat Islam zaman ini, masih terpenjara dengan pemikiran tradisionalis-tekstualis yang selalu mengatakan bahwa ‘apa-apa tentang kehidupan harus sesuai dengan teks-teks suci dan budaya lama (leluhur)’. Sehingga sangat mungkin umat Islam ketinggalan zaman.

Dalam buku berjudul Multidisiplin, Interdisiplin, & Transdisiplin karya Amin Abdullah mengatakan bahwa masih banyak umat Islam yang terkurung dan terjebak dalam jaringan cara berpikir yang saklek, taklid, sesuai adat kebiasaan yang dimiliki, dalam batas-batas tertentu bahkan membelengu. Mereka, tidak mau keluar dari status quo sehingga terus menerus dan stagnan pada tradisi pemikiran zaman dulu, padahal dunia sekarang sedikit banyak sudah tidak sesuai dengan era pemikiran tersebut.

Amin Abdullah, sebagai seorang filsuf dan cendekiawan Muslim mengajak kita untuk berpikir rasional, bagaimana umat Muslim era sekarang bisa mengikuti alur perkembangan zaman tanpa tergilas oleh modernisasi ini. Kemudian beliau memunculkan sebuah semangat baru, yaitu dengan sebuah gagasan Integrasi-Interkoneksi (I-Kon) untuk menjembatani antara kejumudan Islam dengan perkembangan zaman ini.

“Multidisiplin, Interdisiplin, dan Transdisiplin” merupakan keberlanjutan dari paradigma Integrasi-Interkoneksi, sehingga dari itu semua bisa mempertautkan ‘Ulumuddin (ilmu-ilmu agama Islam), al-Fikr Islami (pemikiran Islam), dan Dirasat Islamiyah (Studi Islam kritis). Dari kebersatuan tiga elemen di atas, maka akan menghasilkan sebuah dimensi keilmuan yang bercorak hadlarah al-nas (peradaban agama), hadlarah al-falsafah (peradaban filsafat), dan hadlarah al-‘ilm (peradaban ilmu pengetahuan).

Setelah bisa menerapkan cara berpikir seperti di atas, maka bisa mendialogkan ilmu yang bersumber dari teks-teks keagamaan, ilmu yang bersumber dari rasionalitas akal, serta ilmu-ilmu yang lebih menyentuh hati manusia (qalb, irfani, dan intuitif). Dengan demikian, maka sebuah ilmu haruslah saling bertautan dengan keilmuan lain. Jika sebuah ilmu berdiri sendiri tanpa mengambil sudut pandang dari keilmuan lain, maka dipastikan berakibat kecacatan ilmu tersebut dan cenderung merugikan manusia.

Tafsir-tafsir dari teks agama yang masih dipakai umat zaman ini, masih banyak bertumpu pada tafsir lama yang bersifat linier. Ketika mufassir kala itu mengarang tafsirnya, tentu zaman dan keadaannya sangat berbeda dengan era sekarang. Lalu, apakah tafsir semacam itu masih layak pakai? Sedangkan dinamika zaman dan kehidupan terus bergerak.

Umat Islam zaman sekarang, kebanyakan belum bisa membedakan antara agama dengan ilmu keagamaan; antara Islam dengan ilmu-ilmu keislaman. Jangan-jangan mereka menganggap bahwa ilmu-ilmu keislaman termasuk bagian dari agama itu sendiri. Tentu salah kaprah. Secara mendasar, umat Islam harus bisa membedakan mana agama dan mana ilmu agama.

Agama (teks-teks suci seperti Quran dan Hadis) bersifat tetap sepanjang zaman. Sedangkan ilmu agama (sepert fiqh dan tafsir) bersifat dinamis. Sehingga tak elok jika ilmu agama disamaratakan derajatnya dengan agama. Maksudnya, jangan anggap bahwa ilmu agama seperti penafsiran para ulama terhadap teks-teks agama disakralkan dan tidak boleh direvisi. Hasil panafsiran dari para ulama, janganlah dilegitimasi sebagai ‘perkataan’ Tuhan. Sehingga, jika mereka mensakralkan ilmu agama, di situlah pintu ijtihad tertutup. Akibatnya, kekritisan umat Islam hilang dan menjadi taklid buta.

Nah, hal-hal seperti itulah yang sedang dikritisi oleh cendekiawan Muslim kontemporer. Mereka mencoba mencari solusi dari problematika umat Islam zaman ini. Di antara tokoh-tokohnya seperti Jasir Auda, Amin Abdullah, Hasan Hanafi, Muhammad Syahrur, Abdulah Saeed, Abdul Karim Souroush, dan lain-lain.

Mereka menggunakan metode baru dalam menafsirkan teks-teks agama. Tetap bersumber pada Quran dan Hadis, tapi ketika menafsirkan ayat demi ayat, maka dikaitkan dengan keilmuan lain yang sekiranya memiliki hubungan dengan ayat tersebut. Sehingga hasil penafsirannya kontekstual dengan zamannya.

Semisal mereka menafsirkan ayat Quran ataupun Hadis yang berhubungan dengan alam semesta, maka bukan cuma metode bayani, Ijmali, Maudlu’i, atau muqorrin saja yang digunakan, melainkan cabang ilmu fisika, kimia, biologi atau geologi juga dilibatkan.

Dalam pandangan Abdolkarim Soroush—cendekiawan Muslim berkebangsaan Iran—bahwasannya model penafsiran seperti di atas, bukan berarti mengubah agama atau ritual keagamaannya, tetapi perspektif manusia terhadap agamalah yang berubah dan diubah.

Gagasan Integrasi-Interkoneksi, saya kira menjadi solusi paling tepat bagaimana umat Islam ‘memperbaiki’ peradabannya. Dengan mengkomparasikan dari berbagai sudut pandang keilmuan, maka akan terwujud penafsiran yang sholih likulli zaman wa makan.

Pilihan Lain

Leave a Comment