Juni 22, 2021
Lensarakyat.id-bui tembak

Cerpen Beri Hannah | Bui Tembak

Beberapa waktu lalu Rombong[1] Talu Uri didatangi lima orang lelaki berseragam yang mengaku tentara, mereka meminta rombong pindah dalam waktu dekat karena tanah wilayah mereka bermukim akan ditanami pohon sawit. Mereka juga menunjukan surat putusan atas kepemilikan tanah oleh PT. Bengkok. Walau tak bisa membaca, rombong Talu Uri sempat berdebat tentang tanah warisan leluhur, namun para tentara tidak peduli dan kembali menegaskan bila tidak pindah mereka akan kembali datang dengan bertindak keras.

***

Sanak yang mati tertembak itu dinaikkan ke atas pohon setelah seluruh tubuhnya dibungkus kain. Sebelumnya, sempat sanak minta pada Umak Kaso Itam untuk membetulkan picu gobok[2] yang rusak guna menembak celeng yang dilihatnya telah memakan ubi di halaman sesudongon[3]. Ia geram dan bersumpah akan menembak kepala celeng itu sebab ini bukan kali pertama ubi yang dipanennya lagi-lagi dicuri yang ia yakini, ini dilakukan satu celeng.

Umak Kaso Itam yang beberapa waktu lalu melangkah ke hutan untuk berburu, tak satu melihat celeng, maka ia tertawa dan seakan percaya tidak percaya atas ungkapan sanak. Namun, picu yang rusak itu diperbaiki juga alakadarnya karena sanak mendesaknya.

“Celeng itu harus ditembak hari ini!”

Tikom[4] bae[5], Sanak. Gobok ini sudah tua, sudah rusak, paling bisa tembak satu kali sudah rusak lagi.”

Tengah hari gegat istilah yang menunjukan terik panas siang di luar Rimba, Umak Kaso Itam mendengar bui tembakan sebanyak tiga kali. Ia tahu satu di antara bui itu milik gobok sanak yang ia perbaiki, tapi ia ragu bui ke dua dan tiga karena terdengar redam dan tidak pecah di gurat udara bagaikan buluh disabet kampak.

Keraguan itu memuncak setelah sanak terhuyung-huyung memegang perutnya yang tampak kena luka tembak[6]. Darah sudah menderas di tubuhnya.

Umak Kaso Itam merasa bersalah, seandainya tak ia betulkan picu gobok, mungkin saja sanak tak jadi menembak celeng dan tertembak. Namun, perasaan-persaan bersalah itu hanya membuatnya sedih, air mata melinang—menderas. Ia kuat-kuatkan diri melihat orang-orang turun dari pohon serta mendengar Dukun mengantar puji-puji tiada henti untuk menenangkan ruh yang telah berpisah dari tubuh sanak.

Ngonggolong buek istilah waktu saat matahari tenggelam, semua orang sudah berkemas hendak melangun[7]. Umak Kaso Itam masih di bawah pohon menggeris, ia masih terbayang akan bui letusan yang menembak sanak.

Waktu kecil, Umak Kaso Itam pernah didongengkan tentang burung rangkong berparuh tanduk sapi hinggap di sebatang pohon yang tingginya memuncak langit. Orang-orang tak hirau pada gumpalan udara berwarna ungu yang keluar setiap kali burung rangkong itu terkekeh-kekeh, malah mereka sengaja menembak untuk dibakar lalu dimakan. Paruhnya mereka jadikan jimat. Setelahnya gumpalan udara ungu itu menyatu dalam bening kasat mata, mendadak sebuah guncangan dan terjangan air menyapu isi hutan. Tak ada yang selamat kecuali burung rangkong itu sendiri.

“Terus, bagaimana cerita ini bisa ada jika hanya seekor burung yang selamat waktu itu?” Umak Kaso Itam mengingat apa yang ditanyanya pada bepak[8].

Bahelo[9],” jawab bepak waktu itu.

Burung rangkong itu Bahelo, setelah semua tak tersisa ia terbang mengelilingi hutan sambil melantunkan nyanyian selama semalaman. Saat-saat terakhir sisa tenaganya, ia terjatuh dalam keadaan menukik. Udara lintasan yang dibelahnya menggurat cahaya kekuningan, lalu menjadi hijau dan menyemai kehidupan. Pohon-pohon tumbang berdiri lagi, tanah berbunga-bunga, orang-orang tersadar seakan tak terjadi apa-apa.

“Maka dari itu, jangan menembak burung rangkong,” pesan bepak waktu itu.

Belum tuntas ingatan itu, orang-orang yang tengah menunggu Umak Kaso Itam beranjak untuk melangun—berhamburan karena segerombol tentara datang dengan tembak-tembakan yang berdesing-desing. Senjata mereka meletus-letus ke udara, mulut mereka meledak-ledak pula. Sesudongon dirobohkan, pohon-pohon ditumbangkan, orang-orang ditangkap untuk dipukul, dipijak-pijak dan dilempar ke sana kemari. Kepala mereka dibanting ke pohon dan sebagain tubuh mereka dijepit pada pohon yang telah tumbang. Umak Kaso Itam melejit ketakutan, dicari-carinya sosok burung rangkong di sekeliling langit, tapi tak ia temukan, sebab belakangan ia ingat sanak-sanak di rombong Talu Uri gila menembak.

“Apa yang kau lihat?” tanya seorang tentara berhidung celeng pada Umak Kaso Itam.

Bahelo.

“Jangan pakai bahasa kubu, bangsat!”

“Jangan main-main dengan tentara, binatang!”

“Kenapa kalian tembak anggota kami, monyet?”

Tak ada yang membuka mulut. Semua memilih bisu.

“Punya mulut tidak, bangsat?”

Dengan nada tinggi, mereka terus ditanyai tentang keberadaan kubu[10] yang telah menembak salah satu anggota tentara. Jawaban membisu berhadiah cap darah di kepala, bisa juga dentuman ke perut yang berulang-ulang semakin sengsara semakin membuat dekat dengan kematian. Tak ada yang berani buka mulut kecuali Umak Kaso Itam yang mengatakan sanak itu bukan kubu, ia telah mati karena tertembak, dan mayatnya dinaikkan ke atas pohon. Tentara yang dijawab seperti itu, merasa dipermainkan, “Buat apa mayat ditaruh di atas pohon?” Tapak sepatu melayang ke kepala.

“Serahkan kubu itu! Kalau tidak, satu per satu dari kalian akan kami tembak!”

Mereka dibariskan di bawah pohon menggiris, senjata-senjata tentara mulai dikokang lagi—siap menembak kepala.

“Mana kubu itu?” teriak tentara.

“Di atas pohon,” jawab Umak Kaso Itam.

Maka tembakan senapan meletuskan salah satu kepala sanak di sebelah Umak Kaso Itam. Orang-orang histeris ketakutan, mereka meminta ampun, berulang-ulang memberi jawaban serupa sambil menunjuk-nunjuk pohon di mana mayat sanak yang mati itu berada. Tentara tak peduli, mereka kembali bertanya sambil mengokang senjata.

Giliran Umak Kaso Itam hendak ditembak, ia sadar, bui tembak milik seorang tentara berhidung celeng inilah yang sudah menembak sanak. Tampak dari bengisnya menarik napas bagai pembunuh handal. Namun, kesadarannya terlambat, dan lebih terlambat bila ia ingat-ingat, jauh-jauh hari tentara sudah datang mengusir mereka karena di atas tanah rumah-rumah mereka akan ditanam sawit, mungkin celeng yang dimaksud sanak, ialah tentara satu ini.

Umak Kaso Itam hendak melawan, namun satu ledakan begitu cepat menembus kepalanya, sekejap nyawanya hilang dan ia pun merasa melayang di langit-langit.

Umak Kaso Itam melihat sanak yang lebih dulu tertembak di bagian perut itu sedang lari terlunta-lunta, “Itu dia celengnya,” sambil menunjuk tentara berhidung celeng itu. “Tolong oi Umak Kaso Itam, picu gobok ini macet, betulkan-lah dulu,” lanjutnya.***

 

Beri Hanna lahir di Bangko. Bergiat di Kamar Kata Karanganyar.

 

*Keterangan

[1] Kelompok

[2] Senapan tradisional juga bernama kecepet.

[3] Sebutan rumah Orang Rimba

[4] Tikam

[5] Saja

[6] Dalam ingatan kasus Orang Rimba ditembak di Kejasung Kecil Kebupaten Batanghari pada tahun 2001 yang hilang dari berita.

[7] Tradisi berpindah tempat bila salah satu anggota sanak meninggal juga untuk membantu lebih cepat melupakan kesedihan yang ada dengan meninggalkan tempat mereka tersebut dalam waktu yang cukup lama.

[8] Bapak

[9] Dewa

[10] Bahasa kasar untuk menyebut seorang sanak

Pilihan Lain

Leave a Comment