Mei 17, 2021
senja

Cerpen Gusti Trisno | Ada Senja di Bedadung

Senja hampir tenggelam. Perempuan itu masih saja berada di pinggiran sungai Bedadung. Tatapannya begitu kosong. Seolah-olah harapan sudah telah lama pergi dari kehidupannya. Ia lalu memejamkan mata, berharap-harap semua yang dialaminya hanya ilusi belaka.

Tiba-tiba sesak di dadanya menyerang. Ia mencari pegangan pada paras di sekitar sungai. Ia kembali memejamkan mata. Dan mengucap sepatah-dua patah, begitu lirih, begitu mistis.

Dan, ketika membuka mata. Ia berada di tempat lain. Sebuah tempat yang tak ia mengerti. Sebuah tempat yang membuatnya begitu ingin menjerit kencang, lalu menangis hingga air mata habis.

“Putri Jembersari, ayo selamatkan diri!” sebuah suara begitu saja terdengar.

Ia yang masih tampak kaget atas keadaan yang serba tiba-tiba hanya bisa mematung. Ia tak bergerak. Untungnya, tangan lembut itu menariknya. Ia pun segera berlari dengan si empunya tangan. Tak ada penjelasan mengapa ia harus melakukan ini. Ia tak butuh itu semua. Sebab air mata para perempuan di kampung ini telah menjelaskan bahwa keadaan tak aman segera datang.

Lari begitu kencang. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Sayangnya, tubuhnya tak mendukung seperti biasanya. Ia segera melihat tangannya. Tangan halus dan putih itu berubah ukuran menjadi begitu pendek.

“Biung,” ucapnya kemudian.

Perempuan yang dipanggil Biung itu memandangnya. Pandangan yang penuh arti dan ketenangan.

“Kamu tidak akan apa-apa, Cah Ayu. Bapakmu akan menyelamatkan desa kita.” Ungkap perempuan berwajah teduh itu.

Ia hanya tersenyum. Lalu mendekap erat pada dada perempuan itu. Kemudian, ketika terbangun, waktu telah berputar begitu jauh.

***

“Putri Jembersari!” Biung memanggil remaja itu.

Putri Jembersari segera keluar dari dalam kamar. Ia langsung mengerti jika pagi ini harus menemani Biung mengurus sawah. Keduanya bahu-membahu demi kemaslahatan bersama.

Ketidakadaan Romo dalam hidup mereka membuat hal itu tak mudah. Diawali ketika Putri Jembersari kecil, ia harus mengalami kehilangan berkali-kali. Sebuah penjarahan dan perampokan besar-besaran di desa tempat ia tinggal membuatnya kehilangan Romo selama-lamanya, tak hanya itu perempuan-perempuan di desa itu harus kehilangan semua lelakinya mulai dari orang tua, suami, adik atau kakak, hingga anak-anak mereka yang masih kecil.

Kehilangan itu membuat mereka berpindah mencari tempat yang paling aman. Tempat itu berada di pinggir Sungai Bedadung. Sebuah sungai yang tak hanya memberikan ketenangan, tapi menjadi sumber kehidupan. Lantaran sumber mata airnya yang begitu membantu pengairan di sawah-sawah.

“Cah Ayu,” Biung memanggil anak perempuannya lagi.

Putri Jembersari segera paham dengan menggunakan caping di kepalanya. Ia juga segera memperbaiki kemben dan sampir yang dijadikan bawahan. Biung juga melakukan hal yang sama. Barulah ketika siap, keduanya langsung pergi ke sawah.

Hamparan padi menguning menjadi harapan mereka. Terlebih, masa panen sudah menghitung hari. Hanya saja, sebelum mereka sampai di sawah yang harusnya digarap. Putri Jembersari dan Biung-nya dikejutkan dengan begitu banyaknya perempuan-perempuan desa yang sedang bergerombol.

“Ada apa?” tanya Putri Jembersari.

Tak ada jawaban di sana. Kecuali air mata yang menjadi bahasa ratapan. Putri Jembersari menghela napas. Bara di matanya muncrat seketika. Netranya menatap awas pada rontokkan padi. Ia langsung menyimpulkan jika semalam telah terjadi penjarahan di beberapa sawah padi dengan merontokkan padi menggunakan injakan kaki. Padi yang dirontokkan itu dipilih dan dimasukkan pencuri ke wadah. Sementara jerami dari tanaman padi yang dipotong ditinggalkan ke tepi sawah.

“Kurang ajar!” geramnya.

Instiusi Putri Jembersari mengatakan jika pencurinya melakukan kejadiaan tak terpuji itu ketika malam hari. Sehingga tak ada yang mengetahui pasti siapa yang membawa gabah yang sudah bersih itu. Terlebih, mayoritas para penduduk yang hanya perempuan ini tak ada yang beraktivitas di malam hari. Hal ini juga ditambah penerangan di desa yang hanya sebatas lampu templek.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Putri Jembersari kemudian pada para warga yang masih menangis.

“Kita ronda saja nanti malam,” sahut warga lain.

Putri Jembersari sepakat melakukan itu. Selepas itu, rombongan warga langsung bubar. Mereka yang masih memiliki sawah untuk digarap segera digarap, sedangkan sawah yang menjadi sasaran jarahan hanya bisa kembali ke rumah.

Begitu pun Jembersari dan Biung yang kembali menggarap sawahnya. Gadis ayu itu begitu lihai mengerjakan pekerjaan yang begitu berat itu. Barangkali itu karena didikan Biung yang mengajarkan hal tersebut. Sehingga tak ada keluhan sama sekali.

“Biung, kasihan para penduduk,” ungkap Putri Jembersari.

Biung langsung mengerti. Perempuan berwajah teduh itu kemudian tersenyum. Seketika perempuan separuh baya itu mengingat suaminya yang memiliki sifat menurun pada anak mereka. Sebuah sifat simpati dan loyal yang begitu berlebih.

“Biung, bagaimana jika kita ajak para petani untuk menyisihkan sebagian hasil panennya. Dengan begitu, kita bisa menyerahkan hasil tersebut pada para petani yang gagal panen karena pencurian semalam.”

Saran dari Putri Jembersari begitu menusuk hati Biung. Untuk itu, perempuan berwajah teduh itu segera memeluk anaknya. Tanda bangga atas kebijaksanaan yang mulai muncul di tubuh putrinya.

“Biung setuju!”

***

Malam yang ditunggu. Putri Jembersari dan beberapa kawanannya telah bersiap beronda. Mereka telah menyiapkan tempat persembunyian di semak-semak tak jauh dari sawah yang diprediksi menjadi sasaran. Sawah tersebut milik Putri Jembersari tersendiri. Lantaran sawah itu yang paling dekat dengan lalu lintas orang.

Sebagian tim yang jaga malam lainnya, mereka telah bersiap di tempat lain. Putri Jembersari menggunakan kentungan sebagai simbol jika target mereka telah masuk perangkap. Di tengah proses pengintaian itu, tak terhitung banyaknya nyamuk yang mati akibat menganggu mereka. Tetapi, mereka semua tak ada satu pun yang mengeluh. Terlebih Putri Jembersari begitu memberikan semangat yang luar biasa.

Hingga akhirnya, sebuah suara orang masuk dalam perangkap yang telah dipasang. Putri Jembersari segera membunyikan kentongan berkali-kali. Ia dan kawan-kawannya langsung menuju tempat yang diperkirakan.

Mereka semua langsung menemukan bocah bertubuh begitu kurus berada di sawah milik Putri Jembersari. Bocah itu segera diringkus ke tempat yang pas. Ia langsung dicecar dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Sayangnya, ia tak menjawab. Ia hanya menangis. Melihat itu, hati Putri Jembersari luluh seketika.

“Mengapa kamu melakukan hal ini?”

Bocah itu tak menjawab. Ia hanya menangis bertambah ritmis. Instiusi Putri Jembersari segera muncul. Pasti bocah ini terpaksa melakukan ini semua.

“Ini semua karena Romo saya sedang sakit-sakitan dan Biung sudah lama meninggalkan bumi.”

Penjelasan itu segera dimengerti Putri Jembersari. Ia langsung percaya begitu saja. Tanpa rasa curiga.

“Begini saja. Besok kamu ke sini, kamu bisa bekerja di sawah yang kumiliki.”

Keputusan Putri Jembersari begitu mengangetkan banyak perempuan di sini. Mereka sebagian besar tak menyangka jika pencuri dibiarkan lepas begitu saja, sedangkan sebagian yang lain merasa kebijaksanaan yang dimiliki Putri Jembersari begitu langka. Apa pun pikiran mereka, Putri Jembersari tak begitu ambil pusing. Ia hanya merasa perlu mengatakan hal tersebut. Hanya itu. Sesederhana itu.

***

Meski kita berada di depan seseorang, dianggap lebih tinggi kedudukannya. Kita perlu memberikan mereka kesempatan, sebab sekali seseorang melakukan kesalahan. Seseorang itu memiliki kesempatan berubah. Satu kali salah, tidak selamanya salah.

Ungkapan itu yang terpatri di jiwa Putri Jembersari. Hal itu yang menguatkannya memberikan pekerjaan pada bocah pencuri padi. Dan, seperti dugaannya kepercayaan yang disampaikan itu berbuah hasil. Si bocah langsung membantunya menggarap sawah.

Kejadian itu membuat desas-desus begitu kencang ke masyarakat sekitar desa. Puncaknya, ketika usai dari sawah, mereka sepakat mengangkat Putri Jembersari sebagai kepala desa. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Awalnya, ia langsung menolak. Tetapi, para penduduk membutuhkan pemimpian yang tak hanya berani, tetapi juga peduli.

“Terimalah kepercayaan mereka, Cah Ayu,” tukas Biung.

Putri Jembersari masih gugup.

Kemudian, Biung menceritakan perjuangan suaminya semasa menjadi kepala desa. Romo dari Putri Jembersari itu memiliki sifat yang begitu peduli, bahkan rela bertarung demi mengamankan desa. Termasuk ketika Putri Jembersari masih kecil, lelaki itu harus bertarung dengan segerombolan perampok bengis. Sebuah pertarungan yang membuatnya dipinang malaikat.

Pengorbanan Romo yang diceritakan Biung membuat Putri Jembersari tersadar. Ia perlu melanjutkan perjuangan Romo, cara paling mudah adalah langsung menyetujui permintaan warga.

Hal yang pertama dilakukan Putri Jembersari adalah mempersiapkan diri dengan bekal bedah diri. Ia juga memiliki ajudan yang awalnya teman sendiri. Sama sepertinya, ajudan-ajudan tersebut belajar bela diri. Kesiapan ini dikarenakan trauma masa lalu yang dialaminya.

Hingga suatu ketika, hal yang tak diinginkan benar-benar datang.

“Benar kata orang, Putri Jembersari memiliki paras yang begitu cantik.” Suara yang dirasa Putri Jembersari sebagai Ketua Rombongan Perampok.

Melihat wajah bengis itu, Putri Jembersari menampakkan wajah tak suka. Rombongan perampok itu langsung merasa tertantang.

“Kamu menikah denganku atau kutikam dirimu!” ancam si wajah bengis itu.

Maka, pertemuan tak terhindarkan. Bekal ilmu bela diri yang dimiliki Putri Jembersari cukup mengimbangi kekuatan perampok. Hanya saja, sekuat tenaga ia mencoba bertahan. Tetap, saja pertahanannya rubuh dan mencium tanah untuk selama-lamanya.

***

“Cah Ayu!” suara itu terdengar begitu jernih.

Perempuan itu segera tersadar. Ia membuka mata. Di sampingnya telah hadir perempuan yang dikenalnya sebagai pemilik wajah teduh. Ia tersenyum kemudian, lalu mendekat.

Hari berarak menuju senja yang kelabu atau bahkan basah kuyup. Ia segera mengakhiri keindahan senja yang tak melulu soal terbenamnya matahari atau laut. Ia hanya cukup mendatangi bantaran Sungai Bedadung. Lalu, merasakan segenap cerita yang hidup di dalamnya. Seperti beberapa menit lalu, saat ia ditindih rasa pusing. Ia secara refleks mengingat kejadian yang menimpa Putri Jembersari.

Sebuah kisah yang sarat akan nilai keberanian dan kebijakan. Ia begitu sosok Putri Jembersari. Makanya, ketika ke tempat ini, jiwa tokoh cerita rakyat itu langsung muncul begitu saja.

“Senja, kamu harus segera mendaftar menjadi kepala desa!” ungkap sang Ibu.

Ia hanya mengangguk. Tatapannya tak lagi kosong. Ada harapan baru terbesit di dadanya.

Seketika Senja kembali mengingat kisah mengenai Putri Jembersari yang membuat para perampok berwajah seram itu turut gugur dalam pertarungan. Sehingga semua warga di desa tersebut menyetujui pemberian nama tempat tersebut dengan nama Jember. Sebuah nama yang diambil dari Putri Jembersari yang memiliki jasa dan keberanian berarti.

“Kamu harus berani menjadi pemimpin desa!”

Motivasi Ibu membuat Senja begitu bersemangat. Ia akan menjadikan Putri Jembersari sebagai contoh nyata. Dimulai dari desanya yang tak jauh dari Sungai Bedadung ini terlebih dahulu, hingga akhirnya ia memiliki kesempatan untuk memimpin di lingkungan yang lebih besar. Bukan untuk mencari kekuasaan, tapi ia ingin membuat terobosan kebijakan. Salah satunya kembali mendekatkan masyarakat pada cerita-cerita rakyat yang bisa saja hilang kapan saja, sekaligus membuat mereka lebih mengenal tradisi budaya Jember. Tugasnya tak mudah, tapi dengan usia yang masih muda membuat semua hal tersebut bukan sekadar mimpi belaka.

 

ilustrasi: google

Pilihan Lain

Leave a Comment