Mei 17, 2021
slompret

Cerpen Ian Hasan | Slompret

Slompret[1] ngempret, kempul ngungkung

Kendang riya, ketipung imbal

Bonang loro tur slendro, slompret pelog

Jaran kepang nyongklang, merake ngigel

Macan mangap megap-megap

Bujangganong gaweyan kiprah

Sanyata kagunan reog, prasaja gawe gumbira[2]

 

Siang itu gempita. Pono memainkanmu dengan segenap kemampuan, mengatur irama batin dan derap jiwa pertunjukan. Liuk lengkinganmu yang ganjil, membelah keselarasan, memecah rampak irama bunyi lainnya. Jemari Pono tak kurang gairah turut membelai tubuhmu. Tangan perkasanya mengurut, menyumpal dan mengelusmu hingga basah oleh keringat, membuat kemilau tubuhmu kian menawan terpapar mentari.

Para penonton melingkar. Anak-anak kecil hingga para tetua berdiri khidmat dalam cara masing-masing. Ruah kegembiraan bersengkarut di perempatan Desa Bugelan kala itu, dua puluh langkah dari Setono, tanah punden yang disegani warga. Pukulan gong memanggil degup jantung anak-anak yang beberapa di antaranya ketakutan, melihat seringai barongan bermahkota merak.

Ketukan kempul dan kenong bergandengan tangan menarik simpati muda-mudi, menasehati mereka tentang kegagahan, keelokan, ketangkasan dan kewibawaan dari penampilan para peraga. Suara kendang dan jeritanmu mengantarkan para tetua kepada makna-makna dan ingatan mereka tentang kejayaan dan kebijaksanaan para pendahulunya. Sekumpulan awan mengingatkan pada asap putih yang mengepul dari bakaran kemenyan di salah satu sudut keramaian. Para pemain dan segenap warga yang datang bergelora dalam lingkar kesakralan.

Derap kenangan seperti itu hadir bukan hanya sekali. Terlebih sudah puluhan tahun kau tersembunyi di sini, membuatmu tak mungkin lagi menunjukkan penampilan memikat di hadapan para penikmat suaramu. Orang-orang di rumah menyebutnya senthong tengen,[3] satu ruangan berdinding kayu yang tak pernah terjamah sinar mentari, beserta dua ruangan lain berjajar di sebelahnya. Puluhan tahun kemilaumu padam, terbungkus rapi di situ. Kau rebah di dalam kotak kayu seukuran lima kali lebar tubuhmu, berselimut  kemuraman panjang. Ketika malam, kau sering terganggu oleh gaduh desah yang tak kau mengerti. Tak ada siapa pun yang sanggup menjelaskan, sebab kau terlahir asing di situ. Hanya ingatanmu saja yang kemudian mengembara.

Kau teringat peristiwa yang membuat Pono terkucil dalam pelarian, berkejaran dengan maut yang terus membuntutinya. Diawali ketika tercium kabar sebuah operasi penumpasan laskar merah. Ribuan pasukan bergerak dari segala penjuru menyerbu kota. Mereka terhimpun dari berbagai batalyon yang sengaja didatangkan. Sempat terjadi ketidakjelasan antara kawan dan lawan. Rencana serangan malam Jumat Wage yang menjadi bidikan waktu para pemberontak, bocor sebelum tiba waktunya.  Pertempuran sengit sejak dini hari hingga sore menandakan sepadannya kekuatan. Sampai ketika pasukan lain datang dari arah tak terduga, mengacaukan kedudukan pemberontak yang kemudian bercerai mundur dalam kejaran.

Pada malam itu kalian berlari membelah kelam. Suasana mencekam. Aroma kematian mengejar, berbondong-bondong memenuhi angkasa pikiran. Sekelompok orang beringas menuduh Pono terlibat persekongkolan dengan lawan. Nyawanya menjadi tumbal kesalahan yang mereka tuduhkan. Saat tak ada lagi jalan keluar dari kepungan, kalian diselamatkan blumbang[4] milik juragan gambas. Seekor kerbau melenguh serupa ancaman mematikan. Sekuat tenaga kau tahan rasa jijik, dinginnya air dan bau busuk yang sempat menenggelamkan harapan.

Namun kau masih rasakan getaran hidup, tatkala sesapan bibir Pono mengunjal[5] sebagian napas yang kau bagi padanya. Bibir kalian beradu kelewat lama hingga sampai sekarangpun masih kau ingat kepekatan rasanya, perihal menghitung bilangan nyawa dari napas-napas sisa. Kalian selamat, napas kalian terbebas dari hitungan sisa, meski kenyataan memaksa kalian menghapus jejak langkah berikutnya. Pono sengaja menghilang bersamamu, menyingkir dari hiruk-pikuk pertunjukan sejak peristiwa itu.

Pekan berganti bilangan purnama. Kau dan Pono tertindih riwayat pengembaraan, menyelami pelajaran tentang kesetiaan, serupa ikrar pasangan hidup yang tak terpisahkan. Mengingat hal itu, kau terkesan dengan ketangguhan Pono mengeja jalan takdirnya. Dia yang dulunya seorang peniup slompret terkenal, banyak kelompok Reog mengandalkan keahliannya agar pertunjukan lebih diminati. Bahkan ada pengundang tertentu yang membuat syarat haruslah dia peniup slompretnya. Itulah kenapa, kau dan Pono seakan telah menjadi sesuatu yang tak terpisahkan.

Kau pula yang menjadi saksi ketika dia berpikir tentang niscayanya kematian saat rasa putus asa menikamnya. Segera saja kau sangkal hal itu dengan kecupan dan desahan di persembunyian. Getar kepikan[6] suaramu terdengar nyeri manakala napas kalian menyatu. Suatu malam di pegunungan gersang daerah selatan, kalian larut dalam penyatuan itu, menginsafi nikmat pemilik alam. Seketika Pono tersedan sembari melonggarkan sumpalan, sedangkan kau kepayang manda dalam erat pelukannya.

Satu nama terdesis dari mulut Pono, ketika semburat fajar merekah di balik bukit, menguatkan langkah kalian menuju terang, setengah hari jalan kaki dari tempat kalian berada kini. Sepanjang perjalanan dia bercerita tentang seseorang yang menjadi arah kaki menuju.

“Hyo mung Kang Mu’in sing ngerti sliraku ki sapa,” gumamnya sambil mendekapmu.

Mu’in, orang-orang di tempat itu menyebutnya Mbah Mu’in, seorang Kyai Langgar yang punya banyak murid di Pedukuhan Seringin. Pono berpikir hanya dia satu-satunya kawan di saat yang lain tak lagi memercayainya. Mereka pernah bersama-sama berguru kanuragan dan juga mengaji kebatinan kepada guru-guru kesohor di antara Gunung Wilis dan Lawu, hingga ke pedalaman pantai selatan. Keputusan Pono menemuinya untuk mendapatkan suaka, di tengah ketidakpastian hidup yang terus mengikutinya. Setitik kegamangan membuatnya was-was, meskipun itu tak menunda itikadnya melangkah gegas.

Gemericik air dan kerikat sesek[7] terdengar, menandai perjalanan kalian hampir sampai. Sayup azan Magrib menyambut sedikit keraguan dalam batin Pono. Jalanan lengang, kecuali beberapa orang terlihat menggantungkan teplok[8] di teras-teras rumahnya karena langit beranjak gelap. Suara anak-anak mendaras Quran semakin jelas terdengar. Risau tubuhmu, terselip di sabuk othok[9] yang melingkari kempis perutnya. Sejenak Pono betulkan peci usang kecokelatan dan sarung kumal yang dia kenakan untuk meredakan sedikit kecemasan di batinnya.

Mendengar suara seseorang mengucap salam, Mu’in melangkah keluar dari langgar. Mata lelaki tua itu melebar seketika, saat melihat tubuh dengan sisa keperkasaan yang hanya terbalut kulit di depannya. Sorotnya tajam, hampir saja memadamkan setitik cahaya di dada Pono. Kau lihat mereka berdua dipenuhi rasa ganjil, antara rindu dan siaga, sebelum kemudian melanjutkan pembicaraan di dalam dengan sedikit tergesa.

“Tinggalen kene, aja mbok gawa terus.” Kau dengar sebuah bisikan tertuju kepada Pono, ketika dua sahabat itu saling mendekat. Rupanya Mu’in mengkhawatirkan keberadaanmu yang bakal menjadi celaka bagi Pono, semacam ciri yang menandai ketidaktahuan orang-orang yang sedang mencarinya.

Tanpa mereka ketahui, sekelebat bayangan mengendap dari rimbunan kebun pisang. Deru kebinasaan semakin mendekat. Ketika tangan Pono gemetar hendak meraihmu, sebuah letusan mengagetkan seisi langgar. Anak-anak ngaji berhamburan lari bersamaan dengan sentak tubuhmu terlempar ke bawah dipan. Kau sempat lihat lelaki tua roboh meregang nyawa. Pono terbekuk tak berkutik dengan sebuah senapan yang sontak dijejalkan ke tangannya. Butir hasutan menetas tak lama setelahnya.

Sejak saat itu tak ada lagi sentuhan lembut dan kecupan hangat yang mendarat di tubuh molekmu, apalagi untuk sekadar mengingat perihal riwayat ganjil lengkinganmu bersama Pono.

 

[1] Alat tiup sejenis seruling dalam pertunjukan Reog

[2] Lirik salah satu lagu pengiring tarian Reog

[3] Semacam bilik pada bangunan rumah tradisional jawa yang berada di sisi/sebelah kanan

[4] Sejenis kubangan, cekungan tanah berisi lumpur

[5] Mengangsur kesinambungan tarikan napas

[6] Semacam pita penghasil suara berupa bilah tipis daun lontar

[7] Jembatan dari bambu

[8] Lampu tempel bersumbu, menggunakan bahan bakar minyak

[9] Ikat pinggang dari kulit berukuran lebar, biasa dipakai warok sepuh (senior)

ilustrasi: google

 

IAN HASANIan Hasan

Kelahiran Ponorogo, saat ini bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata.

Pilihan Lain

Leave a Comment