Mei 16, 2021
Cerpen Pensil Kajoe

Cerpen Pensil Kajoe | Rumah Ibu

Rumah bercat cokelat yang menghadap ke selatan itu rumah ibu, rumah di mana pertama kali aku dilahirkan ke dunia. Ada dua pohon jambu tumbuh di pelataran depan rumah. Waktu kecil aku sering memanjat pohon jambu itu dan memetik buahnya dan kumasukkan ke dalam kaos sebagai pengganti kantong plastik.

Jika pagi datang, burung-burung gereja bercericit, berloncatan mensesap tetes-tetes embun yang tersisa di dedaun jambu. Tempat paling nyaman di muka bumi ya di sini, di rumah ibu. Di dalamnya ada kasih sayang tercurah tidak pernah henti. Aku belajar banyak hal di sini.

Suatu hari, aku pernah keluar rumah tanpa sepengetahuan Ibu. Aku pergi bermain bersama teman-teman hingga lupa waktu. Tidak terpikir olehku kalau Ibu sampai kalang kabut mencariku. Maklumlah, saat itu aku masih kanak-kanak jadi tidak tahu betapa khawatirnya hati seorang ibu kalau anaknya belum pulang ke rumah hingga larut senja.

Kupingku dijewer Ibu dan ditariknya  sampai di rumah. Aku tidak berani melawan, karena ini memang salahku, aku pergi begitu saja bersama teman-teman.

“Anak bandel, ayo pulang,” suara ibu  meninggi.

Kuping kananku berasa seperti tersengat lebah, jari telunjuk dan ibu jari mengatup kencang di daun telinga kananku hingga memerah. Aku tidak berani melawan ibu, karena memang aku yang salah.  Sesampainya di rumah, aku tidak punya nyali menatap wajah ibu. Aku tahu, ibu seperti itu sebab kasih sayangnya yang terlalu besar.

Aku masuk ke dalam rumah dengan baju basah, wajah, tangan dan kakiku menempel tanah kering yang mengerak. Melihat kondisiku seperti itu, ayah yang sedang duduk di depan tv hanya melirik, kulihat ayah tersenyum kecil sambil menahan tawa.  Ayah memang sedikit beda dengan ibu yang cerewet. Bahkan beliau seperti menggampangkan segala sesuatu.

Aku ingat saat itu, lututku memar, pipiku terkoyak dan lengan tangan kananku lebam akibat terjatuh dari atas pohon jambu di depan rumah. Aku memang suka memanjat pohon jambu, apalagi kalau musim buah tiba. Jambu-jambu berwarna kuning segar menggoda lidahku ingin segera mencicipinya. Tanpa rasa takut, aku pun memanjatnya, menginjak dahan-dahan yang menjulur. Dahan jambu sedikit lentur dibanding dengan dahan pohon lainnya, jadi aku tidak pernah berpikir tentang resiko kalau dahan jambu akan patah. Baru saja aku akan menginjakkan kaki di dahan teratas dari pohon jambu, terdengar bunyi kraaakk…aku hilang keseimbangan lalu bruuugh… tubuhku jatuh mencium latar batu. Aku kehilangan kesadaran beberapa menit. Ketika kubuka mata, kurasakan perih di lututku. Lenganku nyeri dan satu gigi seriku patah. Aku meringis menahan sakit.

“Ibu bilang juga apa?! Itu akibatnya kalau anak tidak mendengarkan omongan orang tua. Kualat!!” suara ibu menggelegar dari balik jendela kaca.

Meskipun begitu, nurani seorang ibu tidak pernah bisa hilang. Ibu buru-buru membuka pintu depan dan berlari ke arahku. Aku dituntunnya masuk ke dalam rumah, jalanku pincang dengan mengandalkan kaki kanan sebagai tumpuan.

“Duduk, Ibu kompres lukamu biar tak infeksi.”

Aku mengangguk pelan sambil meringis menahan perih, di bagian koyak, ada butiran pasir yang masuk. Ibu berjalan masuk ke dalam sambil mulutnya masih bergumam. Tak lama ibu keluar lagi dengan membawa baskom berisi air es dan kain sejenis handuk.

“Coba sinikan lututmu,” ujar ibu memintaku menjulurkan kaki agar bisa lebih mudah mengompres bagian lutut yang koyak.

“Ibu berkali-kali menasehatimu, Le. Jadi anak jangan pecicilan. Ini akibatnya kalau anak tak mendengarkan omongan orang tua.”

Kuresapi setiap perkataan ibu. Memang benar, tiap kali aku abai pada nasehat ibu, selalu saja ada hal-hal yang tidak mengenakan menimpaku.

Kurasakan kasih sayang ibu begitu besar. Aku masih saja diperlakukan layaknya seorang bayi yang segala sesuatunya harus dibantu.

Tidak terasa kedua mataku basah oleh air mata.

            Aku kangen rumah ibu, batinku.

Kulirik weker di samping kiriku, “Sudah larut malam rupanya.”

Besok pagi, aku tidak boleh terlambat tiba di terminal bus. Sebab di sin, bus  masih sangat jarang, dan hanya di jam-jam tertentu saja.

Meski rasa kantuk menyerang, tetapi kedua mataku tidak dapat terpejam. Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah, menemui ibu dan ayah. Aku benar-benar kangen suara mereka. Kangen masa-masa kecil dulu. Suara ibu dulu kuanggap seperti jarum tajam yang menusuk gendang telinga dan membuat dadaku mendidih, kini justru sebaliknya. Aku sangat merindukan omelan ibu, aku ingin telinga ini dijewer karena kenakalanku.

Raut wajah ibu berkelebatan di benakku, demikan juga senyum ayah membuatku ingin segera pulang.  Kukumpulkan keberanian untuk menemui mereka. Aku memang belum bisa mewujudkan janjiku saat dulu pertama kali aku pergi dari rumah. Aku belum menjadi seperti sesumbarku dulu. Aku sadar, waktu itu emosiku terlalu besar, egois. Aku lupa ada hati yang  terluka. Hati orang tua, hati seorang ibu.

Selesai menyantap sepiring lontong sayur, aku bergegas menuju ke loket penjualan tiket. Syukurlah, masih ada satu tiket yang tersisa. Setelah membayarnya, aku masuk ke dalam bus yang akan membawaku pulang ke kampung halaman.

Kulihat seorang perempuan muda, wajahnya cukup manis. Kutaksir usianya baru dua puluh satu tahun. Perempuan itu tidak tahu kalau aku memperhatikannya yang sedang asyik mengamati anak kecil dalam gendongan ibunya di tengah terik siang di depan terminal. Perempuan muda itu menyeka matanya dengan syal yang melingkar di lehernya.

“Boleh aku duduk di sebelah, Mba?” sapaku.

Perempuan itu membalikan badan dan menatapku,

“Eh, boleh, Mas,” jawabnya singkat.

Perempuan itu kembali memalingkan pandangannya ke arah anak dalam gendongan ibunya. Kulihat dadanya kembang kempis, dia mengela napas , suaranya berat. Seperti ada beban yang mengganjal dalam dadanya.

“Betapa damainya anak kecil itu, ya?” perempuan itu mulai membuka pembicaraan.

“Maksudnya?” tanyaku.

“Ya, dia bisa tertidur dalam pelukan hangat ibunya. Sedangkan aku kecil tidak pernah tahu wajah ibu seperti apa. Ibu meninggal saat melahirkanku.” Suara

Ternyata aku lebih beruntung. Kedua orang tuaku masih ada. Meskipun ibu seringkali memarahiku, justru hal tersebut justru membuatku kangen rumah, kangen ibu. Di dalam bus, aku dan perempuan itu sama-sama mengalirkan air mata.

“Loh, kok Mas ikut menangis, kenapa?” pertanyaan perempuan membuatku gugup.

“Ah, tidak kok. Mataku perih kena AC terlalu lama,” kilahku.

Tangan perempuan itu meraih knop di langit-langit bus dan memencetnya.

“Nah, sekarang sudah tidak terlalu dingin, kan?” tanya perempuan itu padaku.

Tujuh jam perjalanan membuat akumulasi kerinduan semakin besar. Bus yang membawaku dari Jakarta akhirnya memasuki terminal kota kabupaten. Di terminal, aku dan perempuan itu berpisah.

Aku berjalan menuju ke pangkalan ojek di seberang terminal bus, karena jalur menuju rumah lebih cepat sampai dituju menggunakan motor.

“Ojek, Mas?”

“Iya, Pak. Ke jalan Sukarto nomor empat ,  ya.”

Sepuluh tahun tidak pulang ke kampung kelahiran, banyak sekali perubahan terjadi di sini. Lebih kurang setengah jam ojek yang membawaku telah sampai di depan sebuah rumah bercat cokelat. Rumah yang aku rindukan. Namun, dadaku seperti berhenti berdetak saat di depan pintu tergantung sebuah kertas persegi empat,  DI JUAL.

Seketika tubuhku seolah tidak bertulang, kurasakan lemas luar biasa. Aku bersimpuh di depan pintu. Rumah Ibu yang membuatku ingin pulang kini benar-benar sepi, tidak ada lagi suara omelan ibu, tidak kudengar lagi suara tawa ayah.

“Di mana ibu, di mana ayah?” pertanyaan itu kuulang-ulang tanpa ada seorang pun yang dapat menjawabnya.

“Aku kangen ibu, aku kangen rumah ibu.”

 

  Tumiyang, Pekuncen, Banyumas, 13 Mei 2019

Pilihan Lain

Leave a Comment