Mei 16, 2021
covid-19

Covid-19 Sebagai Kebut(W)uhan?

Di tengah hingar bingar politik dan huru-hara pandemi covid-19, berbagai time line media yang semakin menambah warna pilihan dalam mengambil sikap membuat hati dan pikiran kita gelisah seakan terjebak di belantara hutan informasi dan rimbun situasi. Peran media informasi dan komunikasi kurang dapat diandalkan karena bukan hanya semakin membuat wajah dunia berlepotan dengan tidak adanya edukasi memadai untuk membentengi konsumen dalam jaringan untuk bagaimana memfiltrasi pengetahuan yang didapat serta bisa digunakan menjadi bahan pertimbangan untuk mengolah pelbagai konflik dan isu sosial yang marak terjadi di tengah pandemi ini.

Sebuah fatamorgana yang memperjumpakan kita pada jutaan pilihan dan kita turut arus kebingungan, mempertengkarkan perbedaan serta berebut mengaku berada di grid kebenaran. Hal ini menandakan bahwa ada penghianatan terhadap eksistensialisme dalam aliran filsafat di mana posisi kita sebagai pribadi tidak merdeka atas kondisi yang mereduksi ini baik pemahaman, pergaulan, peribadatan, perekonomian, penanganan kesehatan dan terakhir persaudaraan.

Di situasi yang membosankan akibat begitu membeludaknya ihwal wabah covid-19 di linimasa atau time line media yang begitu-begitu saja, mari sejenak kita merenung membangun diskursus dari cara pandang yang berbeda. Hal Ini di bangun bukan soal sensasi di tengah-tengah situasi yang mencekam ini apalagi tercuci dan mengamini teori konspirasi. Jauh dari itu, penulis ingin mengajak para pembaca untuk melepas diri dari bayang-bayang dogma yang selama ini membuntuti kita.

Baik itu sebagai penganut agama atau pengikut kelompok tertentu. Sebagaimana teori eksistensialisme dalam pandangan filsafat yang mengajari kita akan kesadaran manusia itu sendiri ketika berada dalam ruang dan cara kerja dunia, di mana manusia dipandang sebagai makhluk yang bereksistensi atau aktif dengan sesuatu yang ada di sekelilingnya. Jadi secara luas dapat dimaksudkan sebagai berdiri sendiri di atas realitas dirinya.

Covid-19 juga sebagai isyarat pada pemuda/i generasi bangsa bahwa inilah saatnya pengejewantahan teori-teori yang selama ini melumuti kepala kita, sekaranglah saatnya segala disiplin pengetahuan yang kita peroleh dari bangku ke bangku, gedung ke gedung menjadi tindakan nyata atas nama kemanusiaan. Di samping itu, kehadiran corona juga menjadi bukti bahwa masyarakat membutuhkan suatu Negara dalam melindungi hajat hidupnya. Maka di sinilah Negara harus hadir dalam mengambil peran melalui segala kebijakannya.

Di saat negara-negara dunia lain melaju dengan begitu cepatnya merespon globalisasi kini kita masih berkutat pada persoalan fanatisme, saling sikut kelompok satu dengan yang lain, intoleransi di mana-mana maka di balik itu semua hari ini kita bisa mengakui; corona adalah lawan kita semua.  Selain itu, dengan cocid-19 kita menjadi tercerahkan bahwa harta, jabatan, serta properti materiil lainnya tidak ada harganya bila dibanding dengan kesehatan apalagi persaudaraan.

Persaudaraan sebagai relasi paling tinggi di dalam hubungan membangun simbiosis mutualisme secara horizontal lahir dan menjadi jawaban untuk setiap persoalan. Tidak peduli apakah persaudaraan ini terjalin atas nama agama, atas nama Negara, budaya, karena yang terpenting justru adalah persaudaraan sebagai sesama manusia. Tanpa persaudaraan bernama kemanusiaan, kita tidak akan dapat menjernihkan keadaan yang terlanjur runyam dengan hadirnya covid-19.

Sebenarnya apa sih covid-19? Tentu kelompok agamawan yang dalam tanda kutip akan dengan mudah menjawab bahwa virus corona ini hanyalah bagian kecil dari makhluk Tuhan yang diutus ke bumi untuk memberi teguran pada manusia akibat ulah yang seringkali lalai terhadap apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya di Bumi. Di samping itu, golongan ilmuwan saintis juga menjelaskan bahwa virus corona merupakan produk evolusi alami yang pertama kali merebak di Wuhan China.

Kenapa kita tidak sampai pada pemahaman bahwa covid-19 merupakan suatu kebutuhan yang semestinya tidak terlalu disesali oleh manusia. Karena tanpa kita sadari keberadaannya justru memberi banyak ruang-ruang diskursus untuk kita lihat kembali. Baik itu dari segi agama, budaya, politik ekonomi.

Covid-19 tak ubahnya sebuah kebutuhan, sebuah medan untuk membuktikan kita sebagai manusia berideologi paling akbar sejagad mengalahkan makhluk lain. Tentu dengan syarat dan beberapa sikap atau tindakan yang termanifestasi dalam hidup dan kegiatan sehari-hari. karena nilai adalah sikap yang berbicara bukan lagi membicarakan sikap. Kecenderungan dewasa ini yang mengatasnamakan pendidikan, penyadaran dan seabrek kegiatan sosial tak lain merupakan media berhalusinasi bukan semacam konsorsium edukatif seperti harapan banyak pihak pada umumnya.

Pada dasarnya, sulit sekali untuk percaya bahwa semua baik-baik saja, meski ada kalanya kita tahu bahwa badai sehebat apapun hanyalah sementara. Karena saat ini bukan lagi membicarakan apa dan mengapa melainkan bagaimana, bagaimana dan bagaimana. Sebagian besar orang memahami situasi getir ini dari teropong apa dan mengapa. Ditemukan jika kita mau membuka laman youtobe, facebook serta media sosial lainnya jangan merasa heran serta bosan jika terdapat seabrek pertanyaan yang nyatanya hanya itu-itu saja semisal “apa penyebab munculnya covid?”, “apa covid ini bisa disembuhkan?”, atau “mengapa hal ini bisa terjadi pada kita semua?” serta pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Tentunya tidak akan pernah selesai. Justru yang dirasa sesuai dengan keadaan saat ini adalah bagaimana sekiranya mencegah atau paling tidak mengurangi angka kekhawatiran dan kegetiran. Bisa kita temukan melalui penyataan berikut ini, tidak sedikit yang mencoba namun tidak banyak yang berhasil. Di mana finish nya nanti ke persoalan moderat.

Seringkali, di bangku sekolah bahkan meja bundar ala tongkrongan kaum pinggiran mendiskusikan moderat sebagai sarana netral untuk menganalisa sebuah masalah atau konflik yang terjadi sehingga ritme pembicaraan akan dengan mudah menjadi topik hangat yang menemani kebersamaan ditemani secangkir kopi untuk menuangkan semua ide dan inspirasi menjadi alat untuk mentransfer pengetahuan dan mengedukasi seperti kultum (kuliah tujuh menit) yang dicontohkan Aa Gym di televisi.

Jadi, dalam sudut pandang kaca mata moderat segala kemusykilan jadi ringan. Oleh karena itu, jalan netral selalu memikat setiap orang yang memilih mendamaikan dari pada memihak dengan sok sok-an pada sebuah pojok bernama kebenaran yang teradaptasi dalam level pro atau kontra. Berbeda dengan mendiskreditkan salah satu pihak sebelum fokus pada inti pembicaraan.

Maka atas nama kebutuhan yang bertransformasi bentuk menjadi covid-19, rasanya sekaranglah waktunya bagi kita yang mengaku agent of change, yakni bila berada di podium berpidato dengan berapi-api dan bila bertemu lawan maupun kawan optimis mengaku bisa untuk menjadi pribadi uptudate. Pun, tanpa mendiskreditkan, tanpa menjatuhkan di mana moderat dalam makna yang tidak lagi harfiah diwacanakan dalam forum diskusi terejawantahkan menjadi sikap merangkul saudara se-kemanusiaan baik yang terjangkit pandemi covid-19 maupun yang belum. Karena kita melawan peyakitnya bukan menjauhi orangnya.

ilustrasi: google

covid-19

 

Thaifur Rahman Al-Mujahidi, penulis lepas asal Bragung. Merupakan mahasiswa Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan, sedang mengambil jurusan Komonikasi Penyiaran Islam (KPI) semester II.

Pilihan Lain

Leave a Comment