Mei 17, 2021
eksistensialisme

Eksistensialisme dan Humanisme Jean Paul Sartre

Eksistensialisme | Ketika membahas sederet filsafat modern, maka cukup mudah menemui berbagai cabang filsafat dengan tokoh-tokoh bekennya. Memang diamini, Eropa dan Amerika Serikat adalah salah dua tempat yang menjadi kiblat filsafat modern tersebut. Kedua wilayah ini, menjadi ujung tombak munculnya beragam cabang filsafat, sehingga memunculkan filsuf-filsuf agung di abad modern ini.

Salah satu cabang dari filsafat modern cum kontemporer ialah aliran eksistensialisme. Jika membahas aliran ini, maka masyhur akan merujuk ke Jean Paul Sartre. Dia adalah tokoh dibalik meruahnya filsafat tersebut.

Sartre lahir pada tahun 1905 di Paris, Prancis. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang lemah fisiknya dan sensitif. Hal ini membuatnya menjadi bahan cemoohan kawan-kawannya. Tapi, dibalik fisik yang lemah ini, justru ia menyimpan sejuta gagasan yang berlian. Ia menjadi martir dalam bidang pemikiran. Setelah menerima metode filsafat fenomenologi dari Husserl, Sartre tampil sebagai tokoh eksistensialis yang terkemuka.

Dari background keluarganya, menunjukkan bahwa ia dari latar belakang penganut agama yang taat. Doktrin-doktrin kekristenan, sudah ia akrabi sejak kecil. Hal itu kian berubah seiring dengan mendalamnya pemahaman filsafat yang ia kaji. Puncaknya, ia memilih jalan hidup sebagai seorang atheis-eksistensialis.

Dalam dunia pemikiran, sejatinya eksistensialisme dibagi menjadi dua. Yakni eksistensialisme Kristen yang diwakili oleh Jaspers dan Gabriel Marcel, serta eksistensialisme atheis yang diwakili oleh Heidegger dan Sartre.

Dalam pemaparannya, menurut Sartre, eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menempatkan manusia sebagai subjek utamanya. Manusia sadar bahwa dirinya ada. Maka dengan kesadaran atas eksistensi dirinya ini, menempatkannya harus membuat makna terhadap dunia yang tidak jelas, ambigu, dan tampak hampa ini. Sehingga, nasib dunia ke depannya ini bergantung kepada subyektivitas atas pilihan yang manusia buat. Selain itu, bagi seorang eksistensialis, manusia bertanggung jawab penuh atas pilihan yang dibuatnya. Sehingga pilihan yang dibuatnya haruslah mempertimbangkan bagi kemaslahatan seluruh manusia.

Konsepsi tentang subyektivitas manusia, dapat dianalogikan seperti seseorang yang membuat sebuah pisau pemotong kertas. Kita melihat bahwa benda itu dibuat oleh seseorang yang sebelumnya telah memilki konsepsi benda tersebut. Orang itu memperhatikan baik konsepsi mengenai pisau pemotong kertas maupun pra-eksisten teknik produksi pisau tersebut. Dengan demikian, saat yang sama, benda itu dibuat untuk memotong kertas, namun di sisi lain, ia tidak akan tahu bahwa benda itu barangkali akan digunakan untuk tujuan selain untuk memotong kertas.

Ketika berpikir tentang Tuhan sebagai pencipta, Tuhan tahu persis apa yang Ia ciptakan. Konsepsi manusia di benak Tuhan, sama sebangun dengan konsepsi terhadap seseorang yang membuat pisau pemotong kertas tersebut. Dengan demikian, setiap individu manusia adalah perwujudan suatu konsepsi di dalam pengetahuan Tuhan.

Dalam atheisme, ide tentang Tuhan dihilangkan, tetapi tidak dalam pengertian figuratif melainkan ide bahwa esensi mendahului eksistensi. Manusia memiliki “watak manusia” yang ini merupakan konsepsi manusia yang dapat ditemui dalam setiap diri manusia. Hal ini berarti bahwa setiap orang ialah contoh suatu konsepsi yang universal. Kant menerapkan universalitas ini kepada semua manusia, entah yang hidup di hutan, manusia sederhana, manusia modern, bahkan sampai manusia borjuis sekalipun. Pada taraf ini, maka bisa dikatakan bahwa esensi mendahului eksistensi ‘historis’ yang dialami dalam realitas sehari-hari.

Namun, bagi Sartre, hal itu tampaklah tidak rasional. Ia yang berpaham atheis, mengafirmasi bahwa Tuhan tidak ada. Namun, sebelum muncul kehidupan dan segala esensinya ini, telah ada kehidupan yang eksistensinya mendahului hal itu, kehidupan yang hidup sebelum ia dapat didefinisikan dengan konsepsi apapun. Inilah yang menjadi batu pijak Sartre dalam berfilsafat.

Eksistensialisme pada kelanjutannya menempatkan filsafatnya bahwa manusia pada posisinya sebagai diri sendiri, dan meletakkan keseluruhan segala tanggung jawab di pundaknya sendiri. Dan ketika ia mengatakan bahwa manusia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, bukan bermaksud bahwa tanggung jawabnya hanya meliputi dirinya secara individu, melainkan mencangkup tanggung jawab semua manusia.

Lebih jauh lagi, jika eksistensi mendahului esensi dan kita ingin mengada pada saat yang sama dalam mewujudkan citra kita, citra tersebut valid untuk semua manusia dan semua zaman. Dengan demikian, tanggung jawab yang diberikan lebih besar karena meliputi semua manusia. Ketika seseorang mengingatkan diri pada sesuatu, sepenuhnya ia tidak hanya memilih akan jadi apa, tetapi juga sebagai seorang legislator yang memutuskan bagi seluruh umat manusia.

Contoh simpelnya seperti seseorang yang berkeinginan untuk membunuh wanita paruh baya karena sesuatu hal telah terjadi padanya. Ia sebagai seorang eksistensialis, tentu akan berpikir ulang.

“Jika aku membunuh wanita ini, apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana dengan anak-anak yang ia hidupi? Bagaimana dengan tanggungan-tanggungan yang ia sendiri sedang berusaha untuk melunasinya? Bagaimana dengan budaya masyarakat yang akan terjadi, jangan-jangan dengan terbunuhnya wanita itu, akan tercipta kebiasaan saling bunuh dan matinya hukum yang adil? Jangan-jangan ulahku ini akan menyebabkan permusuhan yang lebih besar antar manusia?”

Begitulah kiranya pandangan seorang eksistensialis. Yakni memikul banyak tanggung jawab sehingga harus benar-benar memilih keputusan yang bijaksana. Oleh karena tanggung jawabnya yang meliputi semua manusia, maka Sartre mengamini bahwa seorang eksistensialis sejati, secara otomatis akan menjadi seorang yang humanis. Yaitu seseorang yang memiliki tanggung jawab dan peran bagi semua manusia tak terkecuali apapun.

ilustarsi: google

Pilihan Lain

Leave a Comment