Juni 22, 2021
kecerdasan profesi

Kecerdasan Profesi

Membajak sudah jelas kerja petani, bukan kerja dosen perguruan tinggi. Kalau mereka ikut-ikutan mem­bajak, sama dengan mereka mele­cehkan profesi petani. Saya me­naruh hormat kepada dosen urakan yang mampu mengubah pola pikir, tinimbang dosen rapi yang hanya mempersempit, atau malah mengo­tori pola pikir mahasiswanya.

Lucunya, di Kota Padang­sidem­puan banyak akademisi (dosen) yang tidak tahu malu, mereka sangat percaya diri dan bangga dengan status kedosenannya, padahal mereka sedang merendahkan pro­fesi petani. Mereka yang seharusnya cerdas berprofesi, justru tidak mencerminkan kecerdasan yang dibangga-banggakannya itu di lingkungan kampusnya.

Berkedok kegiatan mahasiswa, biasanya dosen perguruan tinggi beralih peran jadi petani berdasi. Para dosen yang beralih peran akan melupakan TUPOKSI sementara waktu, tapi ada juga yang melu­pakan selamanya. Lebih parah lagi, mereka tidak hanya rajin membajak mahasis­wa, melainkan sesama dosen (dosen baik) yang memang benar-benar lurus, dan cerdas dalam berprofesi.

Hal ini sengaja mereka lakukan karena takut bila dosen yang benar-benar cerdas berprofesi itu akan mengancam keberadaan mereka saat membajak mahasiswa (teru­tama mahasiswa baru, dan maha­siswa semester akhir). Kasihan betul masyarakat yang berprofesi sebagai petani kalau pekerjaan mereka diambil alih para akademisi (dosen) perguruan tinggi.

Dalam masalah ini, seharusnya Badan Eksekutif Ma­hasiswa (BEM) berada di garis depan untuk mem­bela hak mahasiswa-BEM harus men­dalami keluhan mahasiswa yang merasa tertekan dengan tindakan dosen. Karena pemegang kebijakan tertinggi di kalangan mahasiswa adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Tidak bisa dipungkiri, banyak oknum yang memanfaatkan kegia­tan mahasiswa sebagai ajang mem­perkaya diri; salah satunya dosen. Dosen tipe ini biasanya tidak paham apa-apa, hakikat kedosenannya pun perlu diragukan! Tapi, di sini mere­ka akan menjelma manusia yang sok paham betul tentang segala hal, sebenarnya mereka bodoh.

Dalam kekacauan ini, BEM seharusnya hadir di tengah masyara­kat kampus yang terlanjur takut. Mereka harus cerdas mengkaji permasalahan dengan turun lang­sung men­cari tahu, dan mendengar betul suara mahasiswa yang diam karena tekanan dosen-BEM harus betul-betul memper­juangkan hak mahasiswa yang tertekan ini, karena yang memilih mereka adalah mahasiswa bukan dosen.

BEM bersama dosen bidang kemahasiswaan orang yang paling bertanggungjawab atas masalah ini-bukan malah ikut mendukung tin­dakan dosen yang memanfaatkan mo­­ment. Mereka harus cerdas meng­­kaji persoalan; kenapa maha­siswa yang awalnya di belakang bicara menolak, tiba-tiba diam dan meng-iya-kan sesuatu saat dihadap­kan dengan dosen.

Kalau memang mereka cerdas berprofesi, di sini mereka seharus­nya menaruh curiga. Tapi, celaka­nya di Padang Sidempuan ini berbe­da-hanya beberapa kampus di Padang Si­dempuan yang organisasi BEM-nya perduli terhadap kesejah­teraan masyarakat kampus yang dipimpinnya-selebihnya mandul.

Memang betul, melogika keada­an bukan hal yang mudah, juga tidak semua orang bisa menggunakan ke­pekaan mereka untuk mencurigai keadaan yang tak logis. Tapi di sini­lah sebenarnya profesi mereka diuji. Apakah mereka hanya mampu mengguna­kan logika untuk meng­kaji keuntu­ngan pribadi, atau mereka menggu­nakan logika untuk mengkaji ketidaklogisan yang terjadi di dalam kampusnya.

Melepas jubah kebesaran

Seorang pemimpin yang adil bukan yang enak-enakan duduk di kursi membanggakan jubah kebesa­rannya. Mereka yang betul-betul membela rakyat harus melepas jubah untuk menelusuri keadaan di masyarakat. Tak jarang pemimpin yang menyamar jadi masyarakat biasa untuk menelusuri kejahatan anggotanya. Mereka (pemimpin) yang benar-benar membela kesejah­teraan masyarakat tidak akan malu sekalipun harus menyamar jadi tukang sapu.

Seperti dimuat Merdeka.Com, Selasa, 18 Oktober 2016. Seorang  Kapolda Sumsel Irjen Pol Djoko Prastowo, yang menyamar sebagai warga sipil dan berpura-pura melanggar lalu lintas. Hasilnya, Djoko menemukan kejadian itu dan menangkap langsung anggota Polri yang melakukan pungli.

Bukan hanya Kapolda Sumsel yang sempat menyamar, Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM) Mayjen TNI Agus Kriswanto juga pernah menyamar jadi penarik becak motor (Betor), saat menyidak asrama TNI PHB Lam­priet Banda Aceh, untuk melihat kesiapan dalam rangka menyambut HUT Kemerde­kaan RI Ke-70. Berita ini dimuat oleh DetikNews, Minggu (16/8/2015). Dalam hal ini, saya mengang­gap mereka paham dan cerdas dalam berprofesi.

Kembali pada cerita sebelumnya, permasalahan yang timbul di kalangan mahasiswa seharusnya ditangkap oleh BEM, dan mereka wajib menelusuri sampai akar perma­salahan. Semua itu harus dilakukan untuk mewujudkan ke­se­jahteraan serta kenyamanan mahasiswa dalam meng­ikuti proses pembelajaran.

Di sini, dosen bidang kemaha­siswaan juga harus men­jembatani suara mahasiswa yang disampaikan oleh BEM. Dosen bidang kemaha­siswaan tak boleh bersikap subjek­tif, dia harus netral. Begitu juga saat menyikapi masalah, dia tak boleh pro kepada dosen yang diduga me­lakukan tindakan inter­vensi kepada mahasiswa.

Jabatannya saja bidang kema­hasis­waan, ya harus siap mendengar keluh-kesah mahasiswa-bukan malah menutupi kebusukan rekan sejawat mereka (dosen), dengan mengadu domba mahasiswa. Orang yang pantas menduduki posisi bidang kemahasiswaan ini memang harus pandai me­nimbang, bukan pandai menghitung untung di belakang.

Karena, dalam setiap perma­sa­lahan yang terjadi di kalangan ma­ha­siswa, bidang kemahasiswaan ditun­tut harus cerdas berprofesi. Sekalipun di mejanya ada bukti surat pernyataan mahasiswa telah meng-iya-kan se­suatu yang awalnya mere­ka tolak, dia tak boleh percaya begitu saja. Dia harus melepas jubah kebe­sarannya dan turun langsung-dia harus bisa melogika ketidaklogisan ini.

Tapi sekali lagi, hanya beberapa kampus di Padang Si­dempuan yang memiliki dosen kemahasiswaan cerdas dalam berprofesi, selebihnya mandul. Di sini, Badan Ekse­kutif Mahasiswa juga mayoritas hanya patuh dan taat terhadap perintah dosen tinimbang membela kesejah­teraan rakyat kampus (mahasiswa).

Padahal, rata-rata tempat pendi­dikan di kota Padang Si­dempuan berusia puluhan tahun. Usia ini kalau diibaratkan manusia, mungkin saat ini mereka sudah paruh baya. Jika dalam usia paruh baya tidak juga bisa menjadi contoh, lantas mengapa mereka bersikeras menye­but kota ini sebagai Kota Pendidi­kan?

Alangkah lucunya dunia pendi­dikan di kota ini, kota pendidikan yang seharusnya mampu mempro­duksi SDM ber­kualitas, malah lebih produktif melahirkan dan meme­lihara angkatan gagap yang tidak cerdas berprofesi. Mi­ris!***

 

sumber gambar : merdeka.com

Pilihan Lain

Leave a Comment