Mei 17, 2021
Melihat Erdogan dan Fluktuasi Politik-Ekonomi Turki

Melihat Erdogan dan Fluktuasi Politik-Ekonomi Turki

Lensarakyat.id-Rekonstruksi ekonomi Turki pasca terpilihnya Erdogan sebagai perdana menteri pada pemilu tahun 2002, bisa dikatakan telah membuahkan hasil yang cukup bagus. Erdogan, dengan Partai AKP yang mengusungnya, telah memberi perubahan yang cukup signifikan bagi Turki hampir di semua lini. Secara berangsur, Turki mulai bangkit dari berbagai keterpurukan dan mulai menampakkan gigi taringnya.

Ketika AKP mengambil alih pemerintahan, situasi ekonomi Turki sangat rentan dan beresiko timbulnya krisis moneter. Bagaimana tidak? Pada tahun 2001, GDP (Gross Domestic Product), pendapatan dalam negeri Turki, mengalami kontraksi ke arah penurunan sampai minus 7,4%. Pendapatan per kapita menurun dan jumlah pengangguran meningkat drastis.

Tidak hanya itu, beban utang domestik dan luar negeri semakin meninggi. Belum lagi harus menanggung biaya talangan akibat sistem perbankan yang buruk melalui rekapitalisasi bank milik negara dan bank swasta yang bermasalah. Turki benar-benar di ambang kehancuran.

Sejatinya, langkah Erdogan dalam membuat kebijakan ekonominya sangat beresiko. IMF telah lama bercokol menjadi penguasa dan pemegang ekonomi di Turki, yang tentu memiliki pengaruh yang kuat terhadap masa depan negara ini. Di lain sisi, Erdogan juga harus memenuhi janji kampanyenya terhadap warga Turki, bagaimana ia harus sepenuhnya memihak dan mensejahterakan rakyat.

Dalam langkah awalnya, IMF mau memberi pinjaman kepada Turki dengan syarat harus melakukan semua arahan-arahan kebijakan ekonomi dari IMF. Turki berhasil meyakinkan IMF dan cairlah pinjaman sebesar US$ 31 Miliar. Sebelumnya, pada April 2001, dibawah naungan Perdana Menteri Desavit, Kemal Darvis, Turki meminta IMF sebagai pengawas program pengelolaan krisis. Hasilnya, pada musim gugur tahun 2002, pemulihan ekonomi Turki menunjukan tanda-tanda positif.

Sebenarnya, Erdogan dalam membuat kebijakannya mengandung dua esensi yang sama-sama menguntungkan. Pertama, di hadapan IMF, Turki menunjukan kemauan menuruti arahan IMF. Kedua, dihadapan rakyat, Turki memunculkan citra pemerintahan yang kuat dan berani menantang IMF, sehingga kepercayaan rakyat terhadap pemerintah semakin meningkat.

Sejak 15 tahun terakhir Erdogan berkuasa, performa perekonomian Turki meningkat tajam. Turki berhasil menjadi pemasok terpercaya barang-barang konsumsi berkualitas tinggi, dan sekarang, menjadi produsen terbesar perlengkapan televisi dan kendaraan ringan di Eropa. Di sektor makanan pun juga tak kalah ketinggalan, Turki menjadi produsen makanan terbesar keenam di dunia. Serta, menjadi tujuan wisata dunia terpopuler yang dalam setahun mampu menarik 36 juta wisatawan asing.

Kestabilan makro-ekonomi dan fiskal, merupakan tujuan utama dari kebijakan Erdogan. Hasilnya, banyak terciptanya lapangan pekerjaan, pendapatan negara meningkat, dan menjadikan Turki sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas.

Sejak tahun 2002-2012, tingkat kemiskinan menurun drastis. Urbanisasi berjalan dengan cepat, membuka mitra dagang dengan negara luar, serta menyelaraskan berbagai undang-undang dan peraturan dengan standar Uni Eropa. Dengan didukung regulasi aturan yang cenderung mudah, serta sektor keamanan yang bagus, membuat para investor asing berani menanamkan modalnya di Turki. Di tambah dengan politik luar negeri yang menjunjung misi perdamaian dunia, semakin memantapkan negara-negara dalam melakukan mitra dagang dengan Turki.

Sebetulnya, Turki sangat diuntungkan dengan geografisnya. Turki menjadi penghubung antara Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika Utara dan juga Eropa. Bisa dibuktikan, hanya dengan empat jam penerbangan dari Istambul, bisa mengakses lebih dari 50 negara. Ditambah dengan kebijakan ekonomi luar negeri Turki yang disesuaikan dengan budaya, sistem sosial, karakter nasional, sistem kepercayaan serta ideologi masing-masing kawasan sehingga tercipta kerja sama ekonomi yang baik. Bisa dikatakan, ekspor Turki telah merambah ke Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia.

Dalam satu sisi, politik luar negeri Turki memang berjasa mengangkat ekonomi Turki. Tapi, di sisi lain, jika terjadi perubahan iklim seperti ancaman terorisme global, perang antar negara, atau bencana global, bukan  tak lain akan berimbas pada penurunan ekonomi Turki secara drastis. Dan, kiranya inilah yang perlu diwaspadai oleh pemerintah Turki.

Di tengah-tengah kebijakan Erdogan yang wow itu, sepertinya di sektor pendidikan belum mendapat perhatian yang lebih. Pada tahun 2012, kewajiban bagi anak-anak di Turki untuk belajar hanya 8 tahun, sedangkan di negara-negara lain telah merambah 12 tahun masa wajib belajar. Ditambah lagi dengan peningkatan kurikulum berbasis Islam, juga pemisahan pendidikan berbasis sekuler, sangat berbahaya bagi demografi angkatan kerja Turki secara kualitas.

Turki juga belum terlalu berhasil dalam menegakkan pemerintahan yang benar-benar bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Begitu banyak hakim yang memiliki kedekatan khusus dengan para pelaku bisnis dan politikus. Hal itu, jika dibiarkan akan menjadi bom waktu yang merusak ekonomi dan menyebabkan krisis nasional. Juga, membikin investor berpikir ulang untuk berbisnis di Turki, setidaknya, mereka mau berinvestasi jika mendapat kepastian hukum yang jelas dan transparan.

Dalam ranah konsumsi publik seperti bahan-bahan pabrik dan BBM, sebagian besar masih berasal dari impor. Sebanyak 70% konsumsi BBM dan energi, masih menggantungkannya dari luar negeri. Untuk menanggulangi hal tersebut, saat ini pemerintah Turki sedang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir yang direncanakan akan rampung pada 2023. Selain itu, pemerintah juga membangun infrastruktur gas dan stasiun pemasoknya, agar mudah dan merata dalam penyalurannya.

Saya kira, jika Turki bisa membangun pondasi ekonomi yang mapan, pemerintahan yang bersih, pendidikan yang berkualitas, dan menjaga hubungan baik dengan negara mitranya, maka, dalam jangka panjang Turki bisa mengalahkan Eropa, Cina, bahkan Amerika sekalipun. Wallahu a’lam

 

Sumber foto : http://www.baltwashchamber.org/konflik-turki-dan-amerika-serikat-yang-kian-memanas/

Pilihan Lain

Leave a Comment