Mei 16, 2021
membaca

Membaca Strategi Doktrinisasi Radikalisme di Buku Bacaan

Belum lama ini, pada tanggal 30 September 2020, telah booming surat instruksi dari Dinas Pendidikan Bangka Belitung bernomor 420/1109.f/DISDIK yang berisi kewajiban bagi siswa SMA/SMK di Bangka Belitung, untuk membaca dan merangkum buku sejarah perjuangan Muhammad Al-Fatih karyanya Felix Siauw. Sontak, hal itu membikin geram netizen yang pada akhirnya, sampailah kabar ke Dinas Pendidikan Pusat, yang kemudian memberi instruksi agar Dinas Pendidikan Bangka Belitung membatalkan keputusannya kepada siswa SMK/SMK untuk membaca dan meresume bukunya Felix Siauw tersebut.

Hal itu, perlu kita sadari bahwa buku yang berjudul Muhammad Al-Fatih itu, dikarang oleh tokoh HTI. Tokoh yang dikenal kuat ingin mengganti Pancasila dan UUD ’45 dengan mendirikan negara khilafah.

Saya akui, Felix Siauw memang penulis yang hebat. Dia bisa memperoleh citra yang baik di kalangan pemuda, juga efek dari dia yang sering membuat buku yang temanya digemari oleh para pemuda tersebut. Seperti buku berjudul Udah, Putusin Aja!, Yuk Berhijab!, Beyound The Inspiration, dan Syar’i Traveler; The Heritage of Ottoman.

Kesemua buku di atas, ditulis dengan bahasa gaul ala anak muda zaman sekarang dan mudah dipahami. Memang terasa asyik dibaca. Apalagi oleh kalangan pemuda Islam, buku-bukunya Felix Siauw seakan oase yang memberi kesejukan bagi para mereka yang membacanya, pun juga dibungkus dengan konten-konten islami dengan bahasa kekinian. Inilah kelebihan Felix, bisa mengkomparasikan ajaran Islam dengan representasi keadaan masa kini. Sehingga bukunya banyak diminati orang. Tercatat, bukunya Felix sering menempati peringkat pertama sebagai buku bestseller yang cepat lakunya.

Dari hal-hal di atas, dapat saya cermati bahwa Felix memang tokoh HTI yang cerdas. Tanpa kita sadari, orang-orang yang membaca bukunya, akan diarahkan ke pengenalan dan pendoktrinan agar mau ikut HTI. Pandangan-pandangan HTI, terasa sekali dalam buku karangannya. Memaparkan beragam visi-misi HTI, yang kemudian ditulis dengan bahasa yang ringan. Sekaan pembaca dipaksa untuk menerima logika ala HTI yang Felix Siauw tulis dalam bukunya.

Bagi siswa-siswa yang membaca karyanya Felix, jika tidak diberi pendampingan yang kuat, maka mudah terjerumus ikut pola pikir yang Felix tawarkan dalam bukunya tersebut. Yang pada akhirnya, mereka akan terpanggil dan masuk ke lingkaran HTI. Inilah bahayanya buku bacaan bagi anak sekolah, tanpa diseleksi dan pengawasan yang ketat.

Bukan berarti anak sekolah dilarang baca buku, tapi lebih kepada bagaimana mereka agar tidak mudah terjerumus ke pemikiran radikalisme. Perlu diingat, paham radikalisme ala HTI ini sangat mudah tertular lewat ceramah-ceramah dan buku bacaan.

Tidak masalah jika anak sekolah membaca buku karangan orang-orang radikal (HTI/Salafi Wahabi), dengan syarat, harus ada pedamping yang memberi penjelasan agar mereka tidak terbawa arus. Inilah pentingnya bagi guru, Dinas Pendidikan, serta Kemendikbud agar benar-benar ketat menyeleksi buku bacaan bagi anak sekolah.

Sejatinya, buku-buku bacaan yang ada di sekolah-sekolah, wajib berisi materi tentang pengenalan budaya dan jati luhur bangsa. Buku-buku yang dipelajari, sebisa mungkin dikaitkan dengan materi nasionalisme. Hal itu agar sesuai dengan cita-cita para pendahulu kita. Bagaimana mereka berperang melawan penjajah, mengorbankan harta, jiwa, dan raga, agar bangsa dan tanah air ini bisa merdeka. Berdaulat atas dirinya sendiri. Tidak terkekang dan terpengaruh oleh budaya negara lain.

Jika negara ini dipaksa agar sesuai yang HTI mau, maka khazanah khas, jati diri, serta budaya bangsa akan hilang. Indonesia dipaksa menelan budaya ‘Arab’. Sedangkan, negara kita beragam agama, yang dengan pasti masyarakat selain beragama Islam akan menentangnya, dan terjadilah perang saudara.

Saya kira, bagi anak sekolah, membaca buku-buku yang bermuatan doktrin radikalisme juga perlu. Tapi, setelah mereka paham dan menguasai penuh tentang jati diri bangsa dan nasionalisme. Hal itu sebagai tambahan bagi pengetahuan mereka, agar bisa memetakan mana paham yang bermuatan radikalisme dan mana yang tidak. Sehingga ketika mereka sudah lulus dari sekolah, tidak mudah terjerumus dalam lingkaran orang-orang radikalis.

Dengan itu, maka diadakannya sekolah sebagai wadah mencerdaskan generasi bangsa yang nasionalis, akan tercapai. Misalpun ada orang yang menyebarkan berbagai ideologi yang bertentangan dengan ideologi bangsa, dengan sendirinya akan tertolak. Karena generasi penerus kita sudah terbekali ideologi bangsa dengan kuat.

 

ilustrasi: google

 

 

Pilihan Lain

Leave a Comment