Mei 17, 2021
Hari Guru Nasional

Membidik Guru Masa Depan

Hari Guru Nasional — Di kolom opini Harian Suara Karya edisi 26 November 1993, saya menulis artikel “Guru, Pengabdian, dan Profesionalisme” untuk menyambut Hari Guru Nasional, 25 November. Di artikel itu saya menuliskan kondisi guru pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di antara tuntutan pengabdian dan profesionalisme.

Pada satu sisi guru harus menunjukkan pengabdian atau dedikasi yang tinggi meski diliputi berbagai kendala terkait hak dan kewajibannya.. Namun, di sisi lain guru harus bekerja dengan  menunjukkan sikap profesional yang mumpuni dalam mendidik dan mengajar.

Pada dekade 50-an, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka,  dan pada dekade 60-an, tampil guru-guru hebat meski dengan kesejahteraan yang tidak mencukupi. Akan tetapi, karena semangat pengabdian yang selalu menyala, mereka mampu mendidik dan mengajar anak bangsa tanpa berkeluh kesah.

Pada dekade 70-an hingga 90-an kesejahteraan guru masih sangat memprihatinkan. Profesi guru dilirik sebelah mata. Generasi muda yang hebat tidak tertarik menekuni profesi guru. Pada dekade ini penghasilan guru di sekolah negeri masih menyedihkan.

Masih tertanam di dalam memori saya bagaimana pontang-pantingnya mengajar di beberapa sekolah swasta pada sore hari setelah pada pagi hari mengajar di sekolah negeri. Ini untuk mendapatkan penghasilan tambahan.  Gaji sebulan hanya cukup untuk memenuhi keperluan isi perut selama dua minggu.

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005

Setelah reformasi, gaji PNS mengalami perubahan. Kenaikan gaji yang signifikan terjadi pada era B.J. Habibie menjadi presiden. Ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, jatah beras jelek karena berkutu, diganti dengan uang. Jasa B.J. Habibie dan Gus Dur tak akan pernah terlupakan sepanjang hayat.

Pada era pemerintahan desentralisasi, guru PNS dikelola oleh pemerintah daerah. Beruntunglah saya karena saya mengajar di sekolah negeri di DKI Jakarta.  Sebab, saya mendapatkan tunjangan kesra.  Lambat laun nilai nominalnya kian besar, hingga kini menjadi Tunjangan Kinerja Daerah (TKD). Besaran TKD dihitung berdasarkan kehadiran guru di sekolah dan penilaian kinerja guru (PKG) yang berkaitan dengan kreativitas, dan produktivitas kerja.

Ketika Susilo Bambang Yudhojono (SBY) menjadi presiden, lahirlah Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Masa keemasan bagi  guru di seluruh pelosok negeri ini mulai tampak ketika guru harus mengikuti sertifikasi pendidik. Di bawah payung undang-undang ini guru mendapatkan hak dan kewajiban yang semakin baik. Sebab, guru memperoleh tunjangan profesi pendidik (TPP) yang besarnya satu bulan gaji pokok.

Profesionalisme guru semakin tertantang dengan lahirnya undang-undang ini. Kualifikasi dan kompetensi guru harus terpenuhi jika ingin mendapatkan TPP. Guru harus berkualifikasi sarjana (S1). Guru juga harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepsibadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Hanya guru yang bersertifikat pendidik yang mendapatkan TPP.

Himbauan Mendikbud Nadiem Makarim pada Peringatan Hari Guru Nasional, 25 November 2019, agar guru melakukan perubahan dalam mengelola pembelajaran, sebenarnya adalah lagu lama. Sebab, menurut Dryden dan Vos dalam Revolusi Cara Belajar (2001: 207) pada saat ini guru harus mampu menghasilkan ide-ide baru bagi perencanaan strategis dan melakukan perubahan yang terus-menerus dalam memandu pembelajaran.

Masuk Surga

Jika dibandingkan dengan penghasilan guru di manca negara, penghasilan guru PNS atau Aparatur Sipil Negara (ASN) di negeri ini masih kalah jauh. Dibandingkan dengan penghasilan rekan guru di negeri jiran Malaysia, misalnya, penghasilan guru di Indonesia masih di bawah mereka. Guru-guru di Jepang dan Eropa dapat menyisihkan gajinya setiap bulan untuk pelesir ke luar negeri pada akhir tahun.

Meski sudah mendapatkan TPP dan TKD, imbalan bagi guru ternyata dirasakan masih kecil. Hingga hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada era Kabinet Indonesia Maju Jilid 1, Muhadjir Effendy.

“Saya agak yakin, bahwa orang yang pertama masuk surga itu adalah guru. Kalau sekarang gajinya sedikit, apalagi guru honorer, syukuri dulu nikmati yang ada, nanti masuk surga,” katanya yang disambut tepuk tangan hadirin (detiknews, 10 Oktober 2019).

Tersirat dari perkataan Pak Mendikbud Muhadjir Effendy pada Peringatan Hari Guru Internasional, 9 Oktober 2019, bahwa gaji kecil yang diterima oleh guru, apalagi guru honorer, bisa dimaklumi. Imbalan masuk surga kelak layaknya sebuah kompensasi yang akan diterima guru. Apakah ini sebuah apologia?

Guru Honorer

Mungkin yang dimaksud oleh Pak Mendikbud adalah penghasilan guru honorer di sekolah swasta yang ngasal. Selain itu, jam kerjanya tidak lima hari kerja dan beban kerjanya tidak delapan jam per hari.

Maka tidak usah heran jika kita mendengar ada guru yang berpenghasilan tidak sampai lima ratus ribu rupiah per bulan. Tentu saja penghasilan mereka kalah dengan buruh pabrik yang bekerja penuh lima atau enam hari kerja dengan beban kerja delapan jam per hari.

Guru-guru yang bekerja di sekolah swasta yang keren tentu berpenghasilan besar. Saya tak perlu menyebut nama sekolahnya. Anda tentu dapat menelisik sendiri sekolah-sekolah swasta yang terakreditasi sangat baik, sekolah swasta yang terakreditasi biasa-biasa saja, bahkan belum terakreditasi.

Di sekolah negeri, sebenarnya sejak lama sudah ada peraturan yang melarang penerimaan guru honorer. Jika ada guru honorer baru di sekolah negeri, itu adalah penyimpangan dan melanggar peraturan. Ini terindikasi KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

Guru Masa Depan

Seluruh pemangku kepentingan, seperti pemerintah (pusat dan daerah), swasta, masyarakat, dan orang tua peserta didik, layaknya berkontribusi dalam rekrutmen guru masa depan. Mereka bertanggung jawab untuk memberikan penghasilan dan remunerasi yang layak dan mencukupi bagi guru, baik guru di sekolah negeri maupun guru di sekolah swasta.

Agar generasi muda yang hebat tertarik kepada profesi guru, layaknya guru harus berpenghasilan besar. Sebab kita saat ini tengah  mempersiapkan generasi milenial yang cerdas (yang memerlukan peran guru hebat), melek hukum (yang memerlukan peran penegak hukum yang memiliki integritas tinggi), dan sehat (yang memerlukan peran dokter yang manusiawi).

Ketika masih hidup dan bekerja sebagai guru dengan mengajar dan mendidik anak bangsa, guru layak mendapat penghasilan yang besar. Jika nanti telah tiada dan berpulang ke rahmatullah, guru juga layak masuk surga. Semoga.

Dirgahayu Guru Indonesia.

Cibinong, 24 November 2020

 

Penulis dan  Pensiunan Guru ASN di DKI Jakarta. Alumnus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta. Menulis artikel, cerpen, dan puisi di media cetak, media daring, dan media sosial. Menulis buku puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (2018) dan Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), dan buku kumpulan esai Enak Zamanku, To! (2019). Selain itu juga menulis buku nonfiksi  Strategi Menulis Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan Sebagai Pengembangan Profesi Guru (2018).

 

Sumber Gambar : Tribunnews

Pilihan Lain

Leave a Comment