Mei 17, 2021
Menangkal Kaderisasi Islam Radikal di Kampus-Kampus

Menangkal Kaderisasi Islam Radikal di Kampus-Kampus

Lensarakyat.id – Sebenarnya, jika membicarakan kaderisasi Islam radikal di kampus-kampus, sangatlah sensitif. Tersebab, banyak juga pejabat-pejabat kampus sendiri seperti rektor ataupun dosen, yang justru ikut mendorong kaderisasi tersebut. Tak hanya kampus swasta, kaderisasi Islam radikal bahkan telah menjangkit banyak dari kampus negeri. Suatu hal berbahaya, kampus negeri yang menjadi corong negara sebagai tempat penggodokan kader bangsa, malah menjadi bumerang yang mematikan.

Membaca makna Islam radikal, tak jauh dari kata ‘radikal’ yang mulai melambung  pada kisaran tahun 2000-an. Hal itu di dasari atas banyaknya kejahatan seperti terorisme yang aktornya sendiri adalah orang Islam. Alasan mereka melakukan terorisme, karena semua orang selain golongan mereka, entah Islam atau tidak, tetap dianggap kafir. Kafir wajib dibunuh, sedangkan membunuh orang kafir termasuk jihad dan bagi orang Islam yang mau jihad, kata mereka, bakal dijamin surga yang penuh dengan bidadari cantik. Oleh karena itu, ‘stempel’ Islam radikal memang cocok disandingkan dengan mereka.

Yang sangat penting, kekerasan seperti diatas sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama Islam. Mereka hanya sekelompok kecil, yang menafsirkan Quran berdasar kepala mereka sendiri, kemudian menjadikannya sebagai madzhab dan ideologi golongannya. Akibatnya, golongan Islam seperti mereka sangatlah tertutup dan hanya mau menang sendiri.

Mengutip perkataan KH Said Aqil Sirodj—ketua umum PBNU—Islam radikal secara umum terbagi menjadi empat golongan, yang kesemuanya ini telah menyebar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pertama, Wahabi. Inilah salah satu aliran yang perlahan mulai masuk sejak ’80-an dengan aqidah yang radikal, tapi tidak tindakannya. Bisa dibilang keras di mimbar, tapi masih lunak dalam perbuatan.

Kelompok ini yang menilai bahwa perayaan Maulid Nabi SAW bid’ah, peringatan Isra’ Mi’raj bid’ah, dan ziarah kubur musyrik. Tapi masih menyampaikan apa yang mereka anggap bid’ah dengan santun tanpa caci maki.

Kedua, Salafi. Aliran ini datang dari Yaman, yang secara dakwah lebih keras dari Wahabi karena sudah mulai dengan caci maki. Mereka, berkeinginan melakukan purifikasi ajaran Islam sehingga menjadi kaffah, tentu, kaffah-nya menurut takaran mereka.

Ketiga, Jihadi. Aliran ini lebih radikal dan ekstrem dibanding kedua aliran di atas. Doktrin pokok Jihadi, dibolehkan membunuh orang non-muslim serta menghancurkan tempat ibadahnya.

Yang terakhir, Takfiri. Inilah puncak yang paling sempurna dari ideologi kaum radikalis Islam. Aliran ini, menganggap semua orang (termasuk Islam) adalah kafir kecuali golongannya sendiri.

Sejatinya, peran yang paling urgen dalam menghadapi ‘krisis’ radikalisme Islam di kampus adalah datang dari Kemendikbud dan Kemenag. Jika kedua kementerian itu bisa serius menyaring pejabat yang bersih dari virus Islam radikal, maka saya kira kaderisasinya tidak akan berjalan dengan baik. Pasalnya, ketika ada lembaga kemahasiswaan misalnya mau mengadakan acara yang berbau radikalisme, dengan pasti pejabat kampus yang berwenang akan menolak.

Radikalisme juga bisa ditangkal dengan pemberian mata kuliah yang benar-benar mengenalkan Islam yang santun ataupun mata kuliah yang mengajarkan bela negara. Dengan seringnya berdiskusi dengan dosen, maka pemahaman mereka terhadap Islam semakin lama akan jelas dan tidak akan tergoda dengan iming-iming Islam radikal. Perlu diketahui, golongan Islam radikal juga sering memberi iming-iming seperti sejumlah uang, janji jabatan, atau bahkan memberi ‘kartu jaminan surga’ bagi mereka yang mau bergabung.

Selain itu, untuk melawan radikalisme di kampus bisa juga dilakukan dengan meng-support organisasi ekstra kampus yang jelas-jelas mendukung dan cinta terhadap negara seperti PMII, GMNI, atau yang lain. Dari organisasi pergerakan mahasiswa tersebut, saya kira akan timbul banyak diskusi yang tentu ada sangkut paut ideologi mereka dengan pernyataan sikap yang mendukung terhadap negara. Jika sekiranya ada organisasi pergerakan yang nyata bertentangan dengan negara, kampus yang bersangkutan harus langsung bertindak tegas. Bahkan kalau perlu, negara terjun langsung dengan tidak memberi legalitas organisasi mereka.

Pejabat kampus, bisa juga menunjuk beberapa mahasiswanya menjadi ‘intel kampus’. Semisal di tiap fakultas di pasang beberapa mahasiswa yang tugasnya mengawasi gerak-gerik mahasiswa lain. Pasalnya, organisasi atau kelompok Islam radikal, yang belum punya legalitas atau bahkan dilarang oleh kampus, maka akan membuat jaringan dan pengkaderan bawah tanah yang tentunya pejabat kampus tidak akan tahu gerak-geriknya. Mereka akan diam-diam membuat lingkaran daurah tertutup dan tidak sembarang mengajak mahasisiwa, ‘hanya mereka yang mampu menjaga rahasia dan bisa berkomitmen’.

Tapi, jika mahasiswa yang mengawasi, saya kira bisa mengorek informasi yang luas tentang mereka. Dengan pergaulan antar mahasiswa yang akrab, menjadikan lebih efektif dalam memetakan peta radikalisme Islam di lingkup mahasiswa. Dengan itu, maka sangat diperlukan kerja sama yang aktif antara pejabat kampus, mahasiswa, dan organisasi ekstra mahasiswa  dalam menangani pengkaderan Islam radikal di kampus. Hemat saya, jika hal-hal di atas bisa dilakukan dengan baik, maka Islam radikal tidak akan pernah bertengger di kampus.

Pilihan Lain

Leave a Comment