Mei 17, 2021
Islam

Merangkul Ormas Islam, Wujud Komitmen Pemerintah dalam Meneguhkan Kebangsaan

Islam yang menjadi agama mayoritas, telah masuk ke Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu di tengah kentalnya nuansa agama Hindu dan Buddha. Hal itu kemudian memaksa para pendakwah Islam cum ulama, untuk lebih akrab dan akomodatif dengan budaya lokal masyarakat. Maka di tempuhlah jalan penyebaran Islam dengan pendekatan budaya, sehingga pada abad 13 sampai abad 16 Masehi, oleh Walisongo, Islam telah membumi di Nusantara.

Uniknya, Islam yang berkembang di Indonesia ini sangat berbeda dengan Islam yang ada di negara lain seperti Arab, Mesir, atau Timur Tengah. Islam masuk dan berkembang di bumi nusantara dengan akulturasi budaya, sehingga dalam catatan sejarah nenek moyang kita tidak pernah dijumpai peperangan atas nama agama Islam dalam melawan kaum selain Islam seperti pemeluk agama Hindu atau Buddha. Misal pun di temui beragam Kerajaan Islam yang bercokol di berbagai daerah seperti di Jawa, Sumatera, Gowa dan Tallo, atau Kalimantan, hal itu bukan karena peperangan atau penaklukan. Melainkan dengan jalan diplomasi (misal rajanya telah masuk Islam, maka secara otomatis rakyatnya akan memeluk Islam dan berubah menjadi Kerajaan Islam).

Dari sejarah tersebarnya Islam di Indonesia, menandakan hubungan yang karib antara Islam dengan budaya lokal. Hal itu kemudian melahirkan sistem masyarakat yang terbuka dan saling akulturatif. Tidak ada pertentangan antara agama dan budaya.

Corak masyarakat Indonesia seperti di atas, lalu mewarnai bagaimana perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajah. Peperangan melawan kolonial di berbagai tempat, digerakkan oleh ulama dan tokoh pejuang dari berbagai latar belakang. Hal itu, menjadi kesatuan yang dahsyat sehingga melahirkan jargon hubbul wathan minal iman (mencintai tanah air sebagian dari iman), yang telah berhasil mengobarkan semangat juang masyarakat Indonesia sehingga terbentuklah NKRI.

 

Rusaknya Indonesia

Indonesia merdeka, dengan menjadikan Pancasila dan UUD ’45 sebagai dasar negara. Kedua elemen penting negara ini, merupakan hasil dari musyawarah serta ijtihad dari para ulama dan tokoh bangsa. Sehingga terbentuklah negara nasionalis yang di dalamnya terbangun dari sendi-sendi agama. Namun, keserasian ini mulai rusak dengan kedatangan sebagian pelajarnya yang melakukan studi keislaman di tanah Arab. Mereka pulang dengan membawa ideologi Islam yang eksklusif, tertutup. Hal itu, membuat mereka ingin merubah Indonesia menjadi negara Islamis. Dalam tafsir kelompok Islam seperti ini, negara yang sah adalah negara yang menjadikan Al-Quran sebagai sumber pokok undang-undang negara. Semua aturannya, harus secara leterlek sama dengan Al-Quran.

Mungkin mereka lupa, jika ditelaah lebih dalam, sistem yang dipakai oleh negara ini sama sekali tidak ada yang bertentangan dengan Islam. Hanya saja, tidak secara eksplisit namun secara makna sama seperti yang Islam ajarkan.

Kelompok Islam radikal semacam ini, kemudian menjamur di berbagai daerah dan mendirikan ormas seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Islam (JI), dan Jamaah Ansarut Tauhid (JAT). Kesemua ormas tersebut, memiliki kesamaan dalam hal ideologi dan harakah. Harakah yang mereka perjuangkan yakni ingin mendirikan negara Islam, walaupun harus menghalalkan berbagai cara. Perlu dicatat, bahwa serangkaian terorisme di negeri ini, mereka anggap jihad suci melawan pemerintahan zalim.

Rekruitmen anggota dari ormas-ormas seperti di atas, sangatlah sistematis. Degan basis pendoktrinan dan keuangan yang besar, maka menghasilkan jumlah anggota yang cukup banyak dan militan. Inilah yang perlu diwaspadai. Mereka pintar menggunakan berbagai cara. Gerakan mereka tidak mudah terendus.

 

Merangkul Ormas Islam, sebagai Upaya Peneguhan Kebangsaan dan Melawan Radikalisme 

Jamak diketahui, ormas besar Islam Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, lebih dulu berdiri ketimbang negara ini terbentuk. Kedua ormas tersebut, dari dulu sampai sekarang telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam kecintaannya terhadap NKRI dan sumbangsihnya terhadap bangsa Indonesia. Walaupun negara mungkin tidak dapat memberi feedback yang berarti, mereka tetap menerima dan berjuang tanpa pamrih.

Ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ini, memiliki jamaah yang banyak, yang tersebar di berbagai pelosok negeri. Sebenarnya, hal ini merupakan sarana yang paling aktif dalam menyampaikan pesan-pesan nasionalisme kepada masyarakat. Sepatutnya, pemerintah menggandeng NU dan Muhammadiyah, dalam kaitannya membentuk masyarakat yang nasionalis.

Sekolah dan pondok pesantren yang didirikan oleh NU dan Muhammadiyah, jumlahnya terbilang sangat banyak. Pemerintah hendaknya membersamai sarana pendidikan ini, dalam rangka membentuk generasi penerus bangsa yang cinta dengan NKRI.

Jika hal-hal di atas bisa dilakukan dengan maksimal, maka komitmen kebangsaan tidak akan pernah pecah. Masyarakat akan tetap dalam satu payung NKRI. Misal pun ada sekelompok umat Islam yang mengajak untuk mendirikan negara Islam, mereka akan menolak. Mereka sudah paham bahwa kelompok seperti itu hanyalah biang kerok dari permasalahan bangsa. Atau, puncaknya jika golongan Islam radikal ini telah membuat keonaran di tengah masyarakat, maka masyarakat sendiri secara otomatis akan bersatu untuk melawan mereka. Hal ini sebagai wujud dari menjaga komitmen kebangsaan.

 

ilustrasi: google

 

Pilihan Lain

Leave a Comment