Mei 17, 2021
ngelinting

Ngelinting: Ancaman Serius Bagi Pabrik Rokok

Lensarakyat.id — Saya sebagai anak petani tembakau, merasa bangga. Bahwasannya, saat ini tren ngelinting sudah tersebar luas dikalangan pemuda. Tidak hanya pemuda desa, namun pemuda perkotaan juga sudah mulai akrab dengan ngelinting. Sebelum membahas seluk beluk petani tembakau dengan kaitannya ngelinting, alangkah baiknya mengetahui definisi dari ngelinting itu sendiri.

Ngelinting termasuk kosa kata dalam bahasa Jawa. Secara bahasa bermakna menggulung. Tetapi, ketika kata “ngelinting” disandingkan dengan tembakau, dapat diartikan sebagai pekerjaan membuat rokok dengan cara menggulung tembakau dengan cigarette (kertas khusus untuk menggulung tembakau), dan dicampur dengan beberapa bahan rempah pilihan seperti cengkih atau kemenyan.

Lintingan—nama benda dari hasil ngelinting—memang benar memiliki rasa yang berbeda dengan rokok-rokok pada umumnya. Dan inilah yang  menjadi ciri khasnya (dalam konteks pembahasan artikel ini, adalah tembakau yang masih murni, bukan tembakau yang sudah dibumbui perasa).

Setiap tangan yang ngelinting, pasti akan menghasilkan rasa lintingan yang berbeda, walaupun dengan bahan dan tembakau yang sama. Hal itu dikarenakan takaran antara tembakau dengan rempah, atau kepadatan dari lintingannya, memiliki pengaruh terhadap rasanya. Oleh karena itu, saya sering berguyon, “ngelinting itu ada seninya.”

Berseni dengan ngelinting, yaitu menakar campuran tembakau dengan cengkih, sesuai selera penikmatnya. Jika ingin merasakan lintingan yang rasanya berat ketika dihisap, maka cengkihnya jangan terlalu banyak. Sebaliknya, jika ingin rasanya ringan ketika dihisap, maka cengkihnya agak dibanyakkan.

Walaupun pabrik rokok membeli tembakau secara langsung dari petani, nyatanya petani masih sering rugi. Apalagi saat kemarin masa pandemi Covid-19, petani benar-benar tekor. Antara biaya menanam tembakau, sangat beda dengan harga ketika dibeli oleh pabrik. Petani rugi banyak. Akibatnya, banyak dari mereka mutung yang kemudian tembakaunya dibabat habis. Diganti dengan menanam komoditas lain. Artinya, petani sia-sia dan rugi telah menanam tembakau.

Sebenarnya realistis juga, pabrik rokok membeli dengan harga murah. Pasalnya, pandemi juga berefek terhadap penjualan rokok yang menurun. Tapi, tembakau atau rokok jika disimpan dengan tempat yang kedap udara, maka bisa bertahan bertahun-tahun. Kiranya pabrik rokok membeli tembakau dengan harga yang sepantasnya, dan kemudian dijual pada tahun yang akan datang, maka di titik ini antara pabrik rokok dan petani tidak ada yang rugi.

Bagi beberapa orang yang menggantungkan nasibnya dengan pabrik rokok seperti buruh pabrik atau sales maupun toko penjual rokok, memang tidak ada kaitannya secara langsung dengan petani tembakau.

Tapi, ketika ngelinting sudah menjadi tren yang umum, maka penjualan rokok semakin menurun. Pabrik berangsur merugi, rokok dibatasi penjualannya, toko penjual rokok sepi pembeli, serta banyak buruh yang di PHK.

Ngelinting, sejatinya mengangkat harga pembelian tembakau dari petani. Semisal tembakau satu kilo dibeli pabrik dengan harga Rp 60.000, maka ketika dibeli oleh masyarakat untuk ngelinting bisa mencapai kisaran harga Rp 130.000. Harganya dua kali lipat lebih banyak. Petanipun semakin untung. Didukung juga karena tembakau untuk lintingan tidak cukai, jadi tidak ada beban harga yang cukup berarti bagi petani.

Selama ini petani cenderung dirugikan. Dalam pengamatan saya, petani di daerah Temanggung, tepatnya yang hidup di lereng Gunung Sindoro, sedikit banyak telah ‘dimainkan’ oleh bos-bos tembakau. Memang diakui, ekonomi petani di lereng Gunung Sindoro agak sulit, jadi, ketika mereka mulai musim tanam tembakau, maka meminjam uang untuk modal ke bos-bos tembakau tersebut.

Mereka, dibolehkan mengutang dengan syarat nanti ketika telah panen, maka tembakaunya harus dijual kepada bos-bos yang dihutangi tersebut. Semisal harga tembakaunya dibeli dengan harga murah, ya sudah menjadi resikonya. Karena harga tembakau dipegang penuh oleh bos-bos yang megutanginya. Rugilah petani.

Pabrik rokok membeli tembakau dengan murah juga ada pengaruh dari negara. Negara membebankan cukai yang tinggi pada rokok. Otomatis, supaya pabrik rokok tidak rugi, maka membeli tembakau dengan harga murah. Bangsatnya, dari hasil cukai tembakau tidak dirasakan manfaatnya secara langsung ke petani. Sebut saja, subsidi alat-alat pertanian dan pupuk-pupuk pada petani, hanya sebagian kecil yang merasakan. Belum lagi harga pupuk-pupuk yang semakin hari semakin mahal. Padahal, uang cukai rokok untuk negara sangat besar.

Belum lagi dengan kaitannya bupati atau walikota. Pernah pula ada bupati, yang mendapat sokongan dana untuk kampanye dari bos pabrik rokok. Imbasnya, harga tembakau dari daerah yang dipimpin oleh bupati tersebut menjadi rendah. Petani lagi yang rugi.

Pemerintah daerah, sejatinya bisa menekan pabrik untuk membeli tembakau dengan harga yang  pantas. Sebagai usaha mengangkat derajat petani tembakau.

Ngelinting, telah menjadi gerakan masyarakat untuk mendukung petani melawan kapitalisme. Mereka membeli tembakau secara langsung engan harga yang cukup tinggi, tak lain karena lintingan memiliki rasa yang enak, juga untuk mendukung perokonomian petani.

Dan tidak terlalu baik pula, jika pabrik rokok tutup produksinya gegara semua tembakau dijual untuk ngelinting. Banyak sektor ekonomi yang juga bergantung pada pabrik rokok tersebut.

Lalu, bagaimana jalan tengahnya dari semua permasalahan di atas?

Eloknya, pemerintah jangan terlalu tinggi dalam memberi beban cukai kepada pabrik rokok. Cukainya pun juga harus dirasakan langsung oleh petani. Sehingga petani dapat manfaatnya. Cukai yang tidak terlalu tinggi, juga akan mempengaruhi pabrik rokok untuk membeli tembakau dengan harga yang sepantasnya. Petani tidak rugi, pebrik tetap berjalan dengan laba yang cukup, serta negara tetap mendapat dana dari hasil cukai.

Nah, bagi beberapa orang, ngelinting menjadi pilihan tersebab harga rokok yang menjulang tinggi. Kiranya, jika harga rokok stabil, maka mereka akan tetep beli rokok lagi. Dan hasilnya, sektor perekonomian seperti buruh pabrik, sales, serta toko penjual rokok akan berjalan dan sama-sama mendapatkan keuntungan.

Sumber Gambar : Trubus 

Pilihan Lain

Leave a Comment