Mei 17, 2021
Orang Murtad: Bagaimana Pendapat dari Imam Al-Mawardi?

Orang Murtad: Bagaimana Pendapat dari Imam Al-Mawardi?

Lensarakyat.id – Memang sangat disayangkan jika seorang Muslim melihat saudaranya menjadi murtad. Bagaimana tidak? Orang Muslim yang dalam agamanya bakal dijamin surga oleh Allah SWT, kemudian saudara seimannya menjadi murtad yang dalam artian tidak akan dijamin surga lagi. Di titik itulah seorang Muslim menjadi kasihan melihat saudaranya itu.

Dalam kitab Al-Ahkam As-Sulthoniyah  karya Imam Al-Mawardi, dibeberkan tentang pandangan-pandangan fiqihnya  terkait orang murtad.

Dari segi definisi, orang murtad adalah orang yang keluar dan tidak mengakui kebenaran Islam yang telah dipeluknya, entah ber-Islam sejak lahir ataupun  dari kafir (mualaf). Dalam bab Jihad Untuk Kemaslahatan Umum, Imam Al-Mawardi membagi pendapatnya terhadap orang murtad menjadi dua;

Pertama, orang-orang murtad yang tinggal di negara Islam dan keadaannya berseberangan dengan jamaah Muslim. Dalam kajian fiqih Imam Al-Mawardi, orang murtad dengan keadaan diatas tidak perlu diperangi. Namun, jika mereka murtad karena masih ragu dengan kebenaran Islam maka langkah awalnya dengan memberi hujah yang kuat kepada mereka. Jika mau bertaubat dan kembali pada Islam, maka taubatnya diterima. Namun, jika masih tetap setia dengan kemurtadannya, maka wajib dibunuh, entah laki-laki maupun perempuan.

Alasan dibolehkannya membunuh perempuan murtad karena Nabi Muahammad SAW pernah melakukannya, yaitu membunuh perempuan murtad yang bernama Ummu Ruman. Berbeda dengan Imam Al-Mawardi, Imam Hanafi berpendapat bahwa perempuan yang murtad tidak dibunuh.

Untuk waktu pembunuhan orang murtad, para fuqaha berbeda pendapat. Setidaknya ada dua pendapat yang kuat. Pertama, orang murtad harus dibunuh saat itu juga, agar pemenuhan hak Allah tidak mengalami penundaan. Kedua, menunggu sampai batas waktu tiga hari, jika masih murtad maka harus dibunuh. Hal itu di pernah dilakukan oleh Ali bin Abu Thalib, beliau mengultimatum Al-Mustaurid Al-Ajli selama tiga hari, selepas itu ia membunuhnya (karena masih murtad).

Setelah dibunuh, maka orang murtad tidak boleh dimandikan dan dishalati. Kuburannya pun dirahasiakan, tidak boleh dikubur di pemakaman orang Muslim, karena ia bukan Muslim lagi, atau tidak boleh dikuburkan di pemakaman orang kafir karena dulunya ia pernah Muslim.

Harta orang murtad yang telah dibunuh maka menjadi harta fai (harta rampasan perang tanpa melalui peperangan) yang dikumpulkan di baitul mal (kas umat Islam). Setelah itu didistribusikan kepada penerima fai agar tidak diwarisi orang Islam (yang tidak ikut memerangi orang murtad) ataupun orang kafir. Jika orang murtadnya masih hidup maka hartanya disita, namun jika mau bertaubat maka dikembalikan.

Imam Hanafi sedikit berbeda akan hal itu, beliau mengatakan, “Harta yang didapat oleh murtad sebelum ia murtad maka boleh diwarisi, sedangkan harta yang di dapat setelah ia murtad maka menjadi fai.”

Kedua, orang-orang murtad yang tinggal di negeri otonom (bekas penaklukan) Islam dan  menjadi kuat di dalamnya. Setelah diberi hujah dan diultimatum masih tetap saja murtad, maka orang Islam dibolehkan memeranginya dengan serangan mendadak atau menantang secara terbuka.

Jika salah seorang dari orang-orang murtad tertawan, maka boleh dibunuh dalam keadaan terikat (murtad) jika ia tidak mau bertaubat. Imam Hanafi menambahkan jika seorang istri ikut suami yang murtad pergi ke negeri kafir, maka ia boleh disandera.

Masalah orang murtad, memang menjadi polemik tersendiri di kalangan ulama. Definisi murtad bisa saja ketika mereka tidak mau membayar zakat serta tetap mengingkarinya, dan berbeda lagi dengan orang yang tidak mau membayar zakat tapi masih meyakini bahwa zakat termasuk kewajiban. Mereka dinamakan Muslim pemberontak karena tidak mau membayar zakat. Pernah pula terjadi perdebatan antara Abu Bakar dan Umar perihal tersebut. Berikut kisahnya.

Setelah wafat Nabi Muhammad SAW, terjadi pemurtadan dan pengingkaran membayar zakat di beberapa wilayah Islam. Alasannya, mereka berjanji dan mau membayar zakat dengan Nabi SAW, bukan dengan Abu Bakar.

Dengan tegas Abu Bakar pun memerangi orang yang murtad maupun yang tidak mau membayar zakat. Hal itu ditentang Umar. Dia mengatakan, “Apa alasanmu memerangi mereka wahai Amirul Mukminin, padahal Nabi SAW pernah mengatakan ‘aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallahu, jika mereka mengatakannya maka harta dan darah mereka terlindungi olehku kecuali dengan haknya’.”

Abu Bakar pun menjawab, “Tidak membayar zakat merupakan haknya. Bagaimana pendapatmu jika mereka minta tidak shalat? Minta tidak puasa? Minta tidak haji? Kalau itu terjadi, maka tali Islam akan terurai satu persatu. Demi Allah, seandainya mereka menolak membayar zakat anak kambing betina, dan zakat unta seperti yang biasa mereka serahkan kepada Nabi SAW, mereka akan aku perangi karenanya.”

Akhirnya Umar pun menyetujui pendapat Abu Bakar. Bahkan dia mengatakan, “Akhirnya Allah membuka hatiku kepada apa yang telah Dia bukakan kepada hati Abu Bakar.”

Untuk masalah orang murtad yang harus dibunuh, saya kira hukum fiqih tersebut perlu dikaji ulang karena tidak relevan dengan Muslim Indonesia. Alasannya; Indonesia bukan negara Islam, Indonesia memberi hak kebebasan beragama, setiap warga negara berhak mengadukan ke pihak berwajib jika ada orang yang memaksa pindah agama atau ada yang memberi ancaman terkait kepindahan agamanya. Wallahu a’lam.

Pilihan Lain

Leave a Comment