Mei 17, 2021
Bercadar

Polemik Pelarangan Peserta Bercadar dalam Lomba MTQ di Sumatera Utara

Lensarakyat.id — Akhir-akhir ini, jagat media sosial sedikit digemparkan dengan pelaksanaan MTQ di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Video rekamannya pun sudah beredar luas. Berbagai netizen saling adu pendapat, memaparkan bermacam-macam dalil dan argumennya masing-masing. Entah orang bodoh atau pintar, semua saling bersuara. Tentu, hal itu semakin hari semakin riuh menjadi isu panas, apalagi menyangkut masalah agama yang cenderung sensitif dan mudah menaikkan emosi.

Salah satu peserta perempuan dalam ajang lomba MTQ tersebut, sapaan akrabnya Muyasaroh, telah mendapat panggilan nomor urut peserta. Ia pun bergegas maju ke panggung untuk melantunkan tilawah. Ketika telah siap, tiba-tiba salah satu dewan juri memberi teguran. Bahwa jika ingin melanjutkan perlombaan, maka harus lepas cadarnya.

Kata dewan juri dalam video yang saya lihat, alasan Muyasaroh disuruh lepas cadar karena agar bisa menyimak makhroj dan bunyi dari setiap huruf Al-Quran yang dibaca dengan jelas. Jadi biar tidak ada ketimpangan antara makhroj satu dengan lainnya. Ditambah lagi hal tersebut sudah menjadi aturan nasional dalam perlombaan MTQ.

Sejenak, Muyasaroh pun terdiam, agaknya ia bingung antara melanjutkan perlombaan atau melepas cadarnya yang selama ini ia pakai. Tawar menawar terjadi antara ia dengan dewan juri. Hasilnya pun nihil. Dewan juri tetap tidak memperbolehkannya bertilawah dengan memakai cadar. Dengan berat hati, ia terima diskualifikasi dan mempertahankan cadarnya.

Walau saya tidak terlalu suka dengan orang bercadar, tapi, tetap saya apresiasi. Dalam hal ini, saya memuji dan mendukung Muyasaroh. Ia kuat dalam mempertahankan prinsip hidupnya. Tidak banyak wanita yang bisa kuat dalam menjaga prinsip, apalagi dengan berbagai godaan dunia yang terus bermunculan. Muyasaroh adalah contoh dari sekian kecil  wanita saat ini yang hebat, apalagi umurnya masih dewasa. Bisa dibayangkan, ketika wanita pada jenjang dewasa, kebanyakan memilih kesenangan dan hura-hura dunia demi kepuasan nafsunya.

Dalam siaran langsung yang diadakan oleh TVONE, menghadirkan berbagai narasumber termasuk ketua dari dewan juri MTQ tersebut, ia mengatakan sebenarnya dalam pelaksanaan lomba ini ada mis-komunkasi. Sebelum hari H pelaksanaan lomba, para peserta telah di-briefing terlebih dahulu. Setiap peserta yang bercadar, sebelum lomba harus melewati pemeriksaan berkas yaitu penyamaan antara foto dengan wajah, dan hal itu diperiksa oleh dewan juri wanita. Jika antara berkas foto dan wajah berbeda, maka akan didisfikualisasi.

Ditambah, Muyasaroh berasal dari luar kota, sehingga ia tidak tahu dengan aturan tersebut. Dan inilah sumber kesalahpahamannya. Padahal, setelah Muyasaroh ada peserta yang bercadar dan ia tetap ikut lomba seperti biasanya dan berjalan lancar. Panitia juga sudah mencabut keputusannya bahwa Muyasaroh masih bisa ikut lomba dihari setelahnya, tapi ia tidak mau.

Mungkin, yang membuat dewan juri merasa harus ketat meng-verifikasi peserta yang bercadar, karena tahun-tahun sebelum itu pernah terjadi pemalsuan identitas. Pernah suatu ketika ada peserta bercadar lancar dan mendapat nilai yang bagus dalam ajang lomba MTQ tingkat kota. Tetapi, ketika menuju lomba MTQ di tingkat propinsi, dewan juri heran.

Kenapa yang tadinya di tingkat kota bisa lancar dan mendapat nilai baik, kok di tingkat propinsi mendapat nilai buruk sekali, bahkan ketika ada soal dari dewan juri pun tak bisa menjawab sama sekali. Ternyata ketika di tingkat propinsi, sudah beda orang. Dan itu tentu mengelabui dewan juri. Gegara cadar, membuat dewan juri tidak tahu mana yang dulu ikut lomba dan mana yang memalsukan.

Saya kira, orang-orang yang menganggap hal itu pelemahan dan pelecehan terhadap syariat Islam terlalu lebay. Seakan-akan perempuan yang bercadar terdzolimi. Padahal ya sama sekali tidak. Bisa saya analogikan, kenapa pegawai negara dilarang bercadar? Bagi pemerintah, perempuan bercadar sangat tertutup sehingga tidak bisa mengetahui identitasnya. Takutnya, wewenang atau jabatannya sebagai pegawai negeri bisa dimanfaatkan oleh orang yang ingin merusak negara. Jika semisal seorang wanita bercadar masuk ke kantor, bisa saja ia bukan pegawainya, malah perampok atau penjahat yang ingin merusak.

Tapi jika kembali masalah Muyasaroh tersebut, seharusnya panitia MTQ membuat aturan yang jelas dan wajib disosialisasikan kepada seluruh peserta. Panitia atau dewan juri, harus menghormati dan tidak membeda-bedakan perlakuan antara peserta yang bercadar dengan yang tidak.

Pilihan Lain

Leave a Comment