Mei 17, 2021
Puisi Daruz Armedian

Puisi Daruz Armedian | Ketika Kita Telanjang

kita telanjang dan berpelukan. menciptakan bahasa, yang para penyair gagal menuliskannya. menggali riwayat, yang para sejarawan kebingungan untuk mencatat. mendamaikan perang paling mengerikan. perang yang terjadi begitu lama dalam kepala manusia. kita sepasang yang telanjang. aku menciumi tubuhmu seperti mencium aroma kebebasan. kau membalasnya dengan ciuman paling pengalaman: bibir, daun telinga, leher, dada, dan seterusnya, dan seterusnya.

kita telanjang dan bercinta. menjadi manusia merdeka; dari aturan negara, cengkeraman dingin cuaca, belenggu ruang dan waktu, kelam masa silam, dan hitam masa depan. aku (atau kau) tak sedang menindas ketika berada di atas dan kau (atau aku) tak sedang terjajah ketika sedang di bawah. dalam bercinta, tak ada kosa kata untuk tuan dan hamba. tak menyediakan istilah petinggi dan bawahan, bos dan karyawan, raja dan pelayan.

kita telanjang dan melekat. bersama-sama menggapai puncak. filsafat retak, jadi keringat. pengetahuan jadi asing, logika jadi lain. simbol-simbol luntur, nama-nama hancur. kita telanjang dan terpejam dan berpelukan. yang tersisa hanya cinta. lalu dengus napas dan detak jantung di dada.

(jogja)

Pilihan Lain

Leave a Comment