Mei 17, 2021
rembulan

Puisi Muhammad Faizal | Malam, Puan Rembulan

MALAM, PUAN REMBULAN

 

Bisik semu sang rembulan

Dibalik kelabunya awan malam

Tak ayal suara guntur yang saling berbalas

Seolah memberi surat akan nafas

 

Jalanan sepi

Malam panjang dengan rinai hujan

Mengasih insan yang bermalam durja

Menatap kosong lampu yang sudah ingin dijemput ajal

 

Seolah berfikir keras

Fikir dan hati meracau keras

Tangan mengepal keras

Rasa ingin menghantam kepala dengan keras

 

Ahhhhh… memang sudah jalannya kan

Bisik separuh fikirnya

Hatinya menolak

Bak kesatria, hati meracau tentang perjuangan

 

Mata memerah

Menangis tersedu

Meninju-ninju, sambil berteriak keras

Ahhhhh… Setaaaaannnnn

 

Sekejap hitam

Hening

Mati

Satu lagi, ketidakadilan Tuhan

 

Tasikmalaya, 2021

 

 

ELEGI SORE KELABU

 

Sapa rintik pada sang alam

Menggambarkan rindu air akan tanah

Mentari bersetubuh awan sejenak

Di atas lembah hening nan sunyi

 

Dialog burung di rindangnya pohon manggis

10 kaki di depan kamar si pelukis diksi

Mereka bertukar kabar sang sore

Iba akan si pengagum bianglala

 

Meringkuk disudut kamar

Berteman lampu yang lelah untuk hidup

Ya…. Dia sedang menunggu

Menunggu rintik menitik

 

Padahal si malam kan menggilas siang

Kabar itu tak kunjung datang

Walau hanya mengirim pesan

Pada semilir angin utara

 

Bertanya walau tak ada jawaban

Berteriak walau alam tak balik menyapa

Si pengagum murung

Air matanya tak sanggup di bendung

 

Tak ayal arang melintang

Di genggamnya pena yang tinggal separuh

Ia tumpas kertas putih nan bersih

Dengan hitamnya tinta penguntai sajak

 

Lipatan demi lipatan

Mencipta pesawat kertas yang simetris

Bermaksud mengirim pesan

Yang dititipkan kepada angin arah utara

 

Hanya sebuah pesan singkat

5 kata jawaban kenapa dia menanti

Berteriak dia melepas

Temui Aku Sebelum Aku Pergi

 

Tasikmalaya, 2021

 

ilustrasi: google

Pilihan Lain

Leave a Comment