Mei 17, 2021
A warits Rovi

Puisi-Puisi A. Warits Rovi | Sepotong Pisang Cokelat

SEPOTONG PISANG COKELAT

 

A*

tinggal aku di piring ini

merayakan diri yang jenaka

manis tanpa busana

dirindu lidah orang manca,

 

beginilah dunia

di tempat satu dan satunya

cinta saling setia menukar tubuhnya

untuk hati yang berpagar bunga.

 

B*

angin berjenak di jari si tuan

dalam bayangan kelam

memalet tepung dan cokelat

untuk lidah yang sempurna

bahagialah penjual gula

bahagialah pemilik pisang

di balik waktu yang usang

ada rindu bercadar kembang.

 

Dik-kodik, 27.07.18

 

PIKNIK KUNANG-KUNANG

 

musim hujan masih melukis peta

di dada sebentuk bulan

kerling cahaya jadi manik kuning dalam butiran air

bertebar di punggung daun, memuji tidur dusun.

 

aku keluar menuju ladang, menuai putik angin

sesap jari batang pisang, getah udara malam lekat di tulang

aku susur jalan yang simpang

kembang jagung disauh lengang, mengatur bayangannya

ke pangkuan tonggak muram.

 

sayapku membaca angin, dari jantung ke dingin

lingsir patahan huruf ke daging

dari suatu malam yang rinding

harapan menggasing bersama daun kering,

 

aku terus terbang mencari utara

untai selaksa cahaya ratusan bintang

mengemas sayang di seluruh badan

saat cahayaku kedip, saat tubuhku melancip

sebelum hinggap pada pucuk rukam

membandingkan hidup dan kematian.

Gaptim, 07.18

 

TISU

di lembar tipis ini, kutapis tangis

sebelum menit membawanya

pada pintu-pintu angkuh,

 

kauhapus dari sisa dan segala jijikmu

dengan kulit lembutku

aku tersenyum membagi wangi

dari kuntum kembang murni di

dalam jantungku,

 

walau akhirnya kauremas

dan kaucampakkan aku ke tempat sampah

upayamu menggaris yang najis

dan yang berharga

 

tak apalah aku rela

asal aku pulang memberi warta

tentang kau yang bahagia.

Gaptim, 08.18

 

LEMARI KARET

 

aku berguru pada pohonku

pohon karet yang melawan sunyi

dengan ranting dan dahannya sendiri,

 

dengan getah susui musim

menabur bunga ke tangan hujan

bertahan atas godaan angin

seraya menjahit luka-lukanya

dengan gerak tuding tasyahud

lurus ke pinggang matahari,

 

maka di sini aku ada

sabar atas tanganmu yang bergerak

meletakkan ragam pakaian

dengan beragam kenangan

bertahan atas terpaan kebohongan

dan kecongkakanmu

 

seraya kugetahkan doa-doa

di antara pelipir kancing dan ujung kerahmu

agar kau tahu

hidup setelah dilipat dalam hati

harus dipakai dalam keadaan bersih.

 

Pangabasen, 08.18

Pilihan Lain

Leave a Comment