Mei 17, 2021
Puisi Astrajingga

Puisi-Puisi Astrajingga Asmasubrata | Seseorang di Sebelah Kiri

DI LUAR PERBINCANGAN

 

Ini malam kau tandang kembali

dalam sajakku. Hasrat ganih

selepas duka pulih. Kemarin kau

tinggalkan tanya tentang dingin

asing di pinggangmu yang ramping

tapi kutampik dengan gelengan hening.

 

Mimpi dan kenyataan menjadi kenyal

saat kudengar sepi tanggal dari tubuhmu

yang sintal. Semua kata yang ada

terasa liyan untuk sebuah kemungkinan.

Lalu seperti biasanya aku gelisah

laksana silsilah merah seorang imigran.

 

Kutemani kau di bawah bulan sabit gemetar

yang menahan pergerakan kelelawar.

Hujan absen. Hanya sebuah sajak

yang bergeser di luar perbincangan.

Lalu dari balik jendela kita saksikan

angin mengirim gigil arwah hitam sejarah.

 

SESEORANG DI SEBELAH KIRI

 

garis lelah pada wajah seseorang

di sebelah kiri kikuk bercakap dengan kami

tentang silam

atau yang menyala dalam pejam

ada alir darah dara

ada lirih tangis yang gemerincing

membikin kuping berdenging

keduanya adalah kutuk maut

mata kami pun berlubang bak kuburan

setiap kedipnya menjelma kepak gagak

suara kami gemetar dada kami sesak

betapa tegak duka itu

betapa agung yang tertanggung

dan kami menjelma seringai serigala lapar

dengan bayang daging di taringnya

setiap hari itu tiba

 

YANG PADAM DI RAWAURIP

 

Di sini hening, langit sekelabu rambutmu.

Riak di permukaan tambak garam tak

berkilau, hanya desir dari sebuah kincir.

 

Tumpukan sampah campur limbah

menyamarkan bau mayat moyangmu

di sepanjang pesisir minus mangrove itu.

 

Dan kau tak sadar sejarah mengintai dari

menara PLTU yang berjarak selemparan batu

hingga angin asin yang sedari tadi kau hela

 

terasa kian lengket di tenggorokan.

Tempat terpencil lagi senyap begini

memang cocok untuk gelaran eksekusi:

 

Digiring dari hotel Ribink dengan truk

seperti kambing berwarna merah

yang ditinggal penggembalanya.

 

Dan seseorang dalam SUV hijau lumut

menyebutnya sebagai pembersihan

bukan pembalasan, bukan pembantaian!

 

CATATAN EKSIL

 

Di punggung batu,

kata yang kaurenggut

gugur disentak angin senja

dan pandanganmu lepas.

Sajak yang biru

semakin sempurna

ketika jemarimu memungut

kata lain sebagai tanda —

Yang mencelat dari lintasan angan

menyimpan lenguh juga keluh

dan tak sempat dicatat dalam

sebaris kalimat penuh.

 

Sepi yang kautujah

berjelempah di rumput teki

serupa bercak darah

di beranda rumah suatu Mei —

Tujuh batang dupa yang menyala

digabung bunga tujuh rupa

tak akan mampu mengharumkan

bau gosong tubuh dibakar.

Dan bekas poporan bedil

di pelipismu itu masih segarit jerit

memercik letik api

kiamat kecil di luar tarikh.

 

Dari celah sejarah

yang tertutup di buku sekolah

kauhidu bermacam bungkam

semerah logam digarang.

Jumlah eksil yang tak

berbilang, juga hidup normal

yang tak terpegang; memadat

seperti napas dendam

di antara dusta putih

yang sedih …

 

Kau ngungun di situ,

kamus mendadak lampus

menerjemahkan tulang belulang lapuk

yang tak kikuk kaupeluk.

Kaupeluk

dengan luh berlinang.

 

12 RUE DE VAUGIRARD, PARIS

 

Di dinding restoran itu

Indonesiaku menguning

Beragam menu yang akrab

di lidah terhidu anyir darah

 

Lapar yang kutanggung

berangsur gugur, tetapi

pemilik restoran itu ngerti

dan aku mutlak terdiam

 

Di meja yang lain

bunyi sendok-garpu

di piring porselen

menyatu dengan bahasa asing

 

“Paling tidak, minumlah”

rayu pemilik restoran itu, “kami

punya wedang uwuh juga bandrek”

seraya tersenyum bungah

 

Paris menumpahkan gerimisnya

yang magis bagi ribuan ciuman liar

Aku raba sejarah yang merah kelam

seperti pelayan mengelap perabot kusam

 

Pemilik restoran itu ngerti

dan aku malu sekadar bersedih

Pilihan Lain

Leave a Comment