Juni 22, 2021

PUISI-PUISI DAFFA RANDAI

SEJAK NAMAMU TAK TERCATAT KAMUS

 

kurumahkan seluruh cemasku

di tubuh sajakku yang baru.

sejak namamu tak tercatat kamus

larik karya kerap gagal kusepuh.

 

tiap waktu, kutasbihkan namamu

tapi tak ada pertanda bisa kuhirup

rindu yang kau lafazkan dari jauh.

 

kupelajari senyummu

yang tersesat di rimba ingatanku.

dalam senyummu, cinta masihlah utuh.

 

kurumahkan seluruh cemasku

di palung sajakku yang rapuh.

sejak namamu tak dikenal kamus

larik karyaku seutuhnya lumpuh.

 

2020

 

GERIMIS MENGETUK JENDELA

: Rahne Putri

 

kekasih, lihatlah gerimis yang kian tekun

memahat cuaca, menjelmakan wajahmu

yang surga sebagai bagian dari riciknya.

 

kudengar debur angin melintasi jendela

pelan mengetuk dinding telinga

menakwilkan rindu entah milik siapa.

 

seketika cinta menangkap seluruh kata

juga pertanda yang tak tercatat

dalam kamus besar bahasa manusia.

 

kekasih, gerimis mengetuk jendela

tapi kenapa pintu kenanganku

y a n g  t e r b u k a ?

 

2020

 

MENGIRIS AIR MATA

 

malam itu kau tak ada, mey.

aku mengetuk pintu rumahmu

seperti berkunjung ke ruang luka.

dari jendela tanpa kaca

seperti kusaksikan seorang lelaki

mengiris air matanya sendiri.

malam itu kau tak ada, mey.

iakah kau ketiadaan yang kucari?

 

2020

 

4 SAJAK PENDEK

 

[meledak seluruh rindu]

tiap kusentuh pipimu

meledak seluruh rindu

yang tertabung dalam diriku.

 

[tertidur dalam tubuhmu]

aku tertidur dalam tubuhmu.

oleh karena ulah tidurku

tubuhmu memuai sebab mimpiku

tak putus-putus menghidangkanmu.

 

[duh, kekasihku]

duh, kekasihku.

tidakkah kasihan denganku

yang mendidih dalam rindu

sejak kau minggat dari sajakku.

 

[kembang kumbang]

bibirmu kembang

aku kumbang petualang

bersitarung kita dalam gelinjang.

 

2020

 

SEGMENTASI TUMANG SUMBI

 

I: di tengah dada yang terbakar

kau ingat betapa kau bersukacita

ketika suara derap kakinya

bernafsu menyentuh gubuk

membawa kepal jantung yang luput

kau kenali warna degupnya.

 

II: kau ingat kau lebih begitu sibuk

menumbuk-meramu rempah

keluwak, pala, cengkih, ketumbar.

begitu sibuk berpikir bagaimana

menyulap jantung hasil buruan agar

jadi sajian terlemak yang bakal

bermukim di tubuh kita.

 

III: padahal jantung itu, dik

ialah jantung seorang lelaki

yang berdegup-memanggilmu

“dayang sumbi, dayang sumbi!”

kau cacah berkali, bertubi-tubi.

sementara malam kian pucat

air mulai mendidih di tungku

kau semakin tekun: melupakanku.

 

2020

Pilihan Lain

Leave a Comment