Mei 17, 2021
moderasi

Sekali Lagi, Moderasi Beragama Itu Penting!!!

Moderasi | Sudah sekian lama, hiruk pikuk konflik beragama di Indonesia tak kunjung usai. Setiap satu permasalahan teratasi, muncul lagi permasalahan lain bak tumbuhnya jamur di musim penghujan—begitu subur dan melimpah. Hal ini tentu merepotkan, karena dari seabrek problem keagamaan yang kadung terjadi, berakar pada satu titik pemberangkatan. Yakni Meruahnya ideologi radikalisme-konservatisme yang menjangkiti sebagian umat Islam.

Menurut Prof. Mujamil Qomar (2021), cara pandang penganut ideologi Islam konservatif-radikal ialah bahwa Islam yang mereka amini hanyalah satu, yakni Islam yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Islam tidak layak dijelaskan oleh peranan, corak, maupun pendekatan yang mengonstruk suatu identitas Islam yang baru dan khas seperti kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia selama ini. Singkatnya, mereka bersih keras untuk meniru se-saklek mungkin terhadap apa-apa yang orang Islam lakukan kala di zaman Nabi Muhammad Saw.

Mereka tidak bisa membedakan mana syariat Islam yang Nabi Saw. ajarkan dan mana budaya yang Nabi Saw. lakukan. Pasalnya, masyhur ijma’ ulama berpendapat bahwa harus ada dikotomi yang jelas antara syariat dan budaya. Ahli fiqih mendefinisikan, syariat ialah segala sesuatu yang mendapat legitimasi hukum dari Allah Swt. maupun Nabi Saw. seperti perintah sholat, puasa atau haji dan menjadi amaliah yang harus dikerjakan. Sedangkan budaya ialah hasil cipta manusia bilamana tidak mendapat legitimasi hukum, sehingga bersifat mubah—umat Islam tidak dibebani kewajiban terhadap hal tersebut. Contohnya seperti cara berpakaian, bentuk negara, ataupun tata sosial-budaya lainnya.

Dan ketika melihat Indonesia, begitu tampak terjadi segregasi umat Islam di ranah ideologi dan praktik amaliah. Konflik keagamaan karena tiadanya moderasi bergama yang terjadi ini, mulai muncul ke permukaan kisaran awal abad 19, ketika sebagian kecil pemuda Indonesia studi Islam di Arab Saudi. Kala itu, Arab Saudi telah dikuasai dengan kuat oleh Wahabi. Wahabi sendiri ialah paham yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang secara konstruks dan perspektif keagamaannya cenderung kaku, radikal, serta tekstualis dan termasuk kelompok Islam konservatif-radikal.

Ketika para pemuda yang belajar Islam ke Arab Saudi pulang ke tanah air, yang mereka bawa adalah segenggam ideologi Islam konservatif-radikal ala Wahabi. Langsunglah mereka ‘dakwah’ sana-sini untuk mengajak Muslim Indonesia untuk kembali ke ‘Islam’. Maksudnya, kembali ke agama Islam versi mereka, tersebab, selain Islam versi mereka ialah salah, sesat, dan kafir.

Islam yang diajarkan oleh Walisongo sejak abad lalu yang menggunakan pendekatan budaya, dianggap tidak absah dan menyalahi syariat. Akibatnya, mereka tidak mau mengakrabi budaya lokal Indonesia. Budaya-budaya yang secara sohih tidak Nabi Muhammad Saw. ajarkan, maka tidak mau mereka ikuti. Padahal, budaya lokal yang ada di Indonesia ini tidak semuanya buruk. Mulailah mereka berkoar-koar sana-sini bahwa Muslim Indonesia yang masih keukeuh dengan ajaran Walisongo dicap “Kafir, sesat, dosa”. Dan siapakah orang yang tidak emosi ketika dibilang “Kafir, sesat, dosa”? Inilah, ihwal muasal terjadinya segregasi umat Islam di grass root.

Parahnya lagi, secara berkelanjutan, orang-orang yang mengikuti haluan paham model Islam konservatif-radikal, akan merusak tata sistem sosial-kenegaraan yang sudah ada. Basis ideologi yang mereka terapkan ialah bagaimana caranya agar ideologi yang mereka anut, diikuti oleh semua umat Islam.

Salah satu isi dari ideologi Islam konservatif-radikalis adalah ketika seorang Muslim melihat kekafiran dan kezaliman meraja lela, maka wajib baginya untuk merubahnya, entah bagaimanapun cara yang digunakan. Celakanya, tolak ukur kekafiran atau kezaliman tersebut, hanya subjektif menurut mereka sendiri. Jadi, semisal sistem negara bukan khilafah, maka akan dianggap kafir. Ketika berbudaya dan tidak seperti budayanya Arab (baca: bagi mereka, budaya Islam adalah seperti budayanya orang Arab), dianggap fasik atau zalim. Oleh sebab itu, terjadinya terorisme, pemberontakan, bughot, atau semacamnya di beberapa negara, tak lain tak bukan karena bagi mereka hal seperti itu termasuk ‘dakwah’ memerangi kezaliman dan kekafiran. Mereka anggap bahwa negara yang tidak menggunakan sistem Islamis sama dengan kafir: wajib diperangi.

Sampai titik ini, begitu penting dalam meneguhkan moderasi beragama. Yakni cara pandang dalam memahami dan mengamalkan agama tidak berlebihan dan ekstrim. Selalu berimbang dalam melihat persoalan yang ada, baik secara teks maupun konteks. Hasil dari moderasi beragama ini ialah humanisme. Yakni bagaimana output dari orang yang beragama akan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, karena agama sendiri Tuhan turunkan sebagai wujud penghormatan kepada manusia.

ilustrasi: google

Pilihan Lain

Leave a Comment