Mei 17, 2021
Al-Azhar

Sekilas Tentang Al-Azhar

Sudah tak asing di kuping kita, jika mendengar institusi yang bernama Al-Azhar, apalagi penulis sendiri merupakan salah satu mahasantri di universitas tersebut. Lembaga pendidikan yang didirikan pada era Dinasti Fathimiyah itu, telah menjelma sebagai pusat peradaban Islam yang telah mengakar seribu tahun lamanya. Tak heran, Al-Azhar saat ini menjadi tempat yang kondusif bagi kiblat intelektual umat Islam, bahkan menjadi salah satu rujukan terpentingnya.

Al-Azhar dengan konsep wasathi-nya mampu menampung setiap pandangan dari berbagai madzahib yang di sepakati jumhur ulama dengan legawa, tanpa ada rasa paling benar sendiri dan atau saling caci gegara beda pendapat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kibarul ‘Ulama Al-Azhar, Shaikh Ali Jum’ah, Azhariy—sebutan orang yang berkiblat Al-Alzhar—kebanyakan dalam beraqidah menganut Asy’ariyah atau Maturidiyah, bermadzhab fiqih dari salah satu empat madzhab, dan bertashawuf yang sesuai dengan syara’. Namun, hal itu bukan berarti tidak ada madzhab lain yang berdiri di Al-Azhar, ada banyak, tetapi pengikutnya relatif kecil. Hal itu tetap Al-Azhar pertahankan, tanpa ada diskriminasi dan bahkan tetap mendorong proses dialektikanya.

Berbicara pada peranan Al Azhar bagi dunia.

Begitu banyak apa yang telah di lakukan Institusi legend setingkat kementerian ini. Sebagai contoh, belum lama ini Grand Shekh Ahmad Thayyib—guru besar di Al-Azhar—telah mengeluarkan kesepakatan bersama untuk kerukunan umat beragama dengan Paus Vatikan. Beliau telah mendorong dan terlibat secara penuh dalam berbagai diskusi maupun kegiatan yang mengkampanyekan perdamaian dunia. Beliau selalu menekankan pengaplikasian dari sifat-sifat yang diajarkan agama Islam seperti tasamuh, ta’adul, atau tawazun yang pada efeknya, akan mendorong perdamaian dan persaudaraan umat manusia.

Tak hanya itu, hampir setiap tahunnya Al-Azhar mengirimkan da’i-da’inya ke penjuru dunia untuk menyebarkan Islam wasathi (moderat), bahkan juga turut aktif semisal dalam suatu negara terdapat bencana atau pandemi yang membutuhkan tenaga medis, maka Al-Azhar mengirimkan dokter-dokter terbaiknya untuk membantu menyelesaikan musibah tersebut.

Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa Al-Azhar hanya mengurus soal keislaman saja. Bukan seperti itu. Selain sebagai lembaga yang beratapkan Islam, Al-Azhar juga berkecipung dalam sains, filsafat, kedokteran, dan berbagai fakultas pendidikan umum lainnya yang energik dalam mewujudkan perdamaian, kecerdasan, dan moral umat manusia.

Jadi tidak ada alasan untuk seorang thalib Al-Azhar, untuk tidak berkontribusi di setiap jengkal kehidupannya. Setiap pencari ilmu di Al-Azhar memiliki beban moral untuk selalu mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan dunia pada umumnya.

ilustrasi: google

Pilihan Lain

Leave a Comment