Mei 17, 2021
sekolah

Sekolah, Sudah Siapkah Dibuka Kembali?

BeritaBaru.Co edisi 21 November 2020 memberitakan bahwa pemerintah menyampaikan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi COVID-19.  Ini berarti bahwa pembelajaran secara tatap muka (PTM) di sekolah akan dilaksanakan pada bulan Januari 2021.

Sementara itu, saya membayangkan sekolah dibuka kembali pada pertengahan Juli 2020 lalu setelah ditutup beberapa bulan lamanya. Pembukaan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar dilakukan sesudah penerimaan siswa baru (PSB). PSB dilaksanakan secara online atau daring untuk menghindari kontak langsung antarorang dan kerumunan orang atau penumpukan massa.

Secara fisik siswa di kelas awal hingga kelas akhir PTM. Dengan demikian terjadi interaksi antara siswa dengan guru. Ceramah oleh guru, tanya-jawab, dan diskusi pun berlangsung. Kadang-kadang kelas hingar-bingar karena joke yang keluar dari sense of humour sang guru. Kadang-kadang sunyi senyap.

Padahal, beberapa provinsi dan kabupaten atau kota di negeri ini sedang memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, juga tengah bersiap memasuki normal baru (new normal) dalam menghadang dan memutus mata rantai penularan virus corona atau pandemi Covid-19. Namun, harus senantiasa memiliki produktivitas tinggi dan tidak lagi belajar di rumah dengan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Pada sisi lain, pemerintah pusat dan daerah sudah menyiapkan protokol kesehatan yang rigid dan komprehensif untuk mencegah wabah virus corona menular kepada peserta didik. Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan wajib dilakukan. Menghindari kerumunan orang juga harus dipatuhi.

Sarana dan prasarana di sekolah juga telah dipersiapkan dengan baik. Alat pengukur suhu badan, penyediaan masker, pengadaan sanitizer dan sabun antikuman, dan disinfektan, juga digalakkan. Pengaturan bangku dan kursi murid disusun sesuai dengan aturan menjaga jarak. Ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) difungsikan sebagai tempat pengendalian dan pencegahan penularan wabah virus corona di sekolah.

 

Karena penular virus corona adalah manusia, kita harus memperhitungkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi ketika peserta didik berangkat dari rumah menuju dekolah dan saat mereka pulang dari sekolah ke rumah. Ketika berada di sekolah guru harus mengawasi dengan ketat dan cermat perilaku mereka ketika mengikuti proses belajar mengajar dan bergaul dengan teman sebaya ketika jam istirahat.

 

Keluarga, Masyarakat, Sekolah

Tiga komponen ini: keluarga, masyarakat, dan sekolah, merupakan pemangku kepentingan yang memiliki potensi menularkan dan ditulari wabah virus corona. Itu sebabnya, kewaspadaan yang ekstra tinggi harus dimiliki. Keluarga, masyarakat, dan sekolah merupakan entitas dan komunitas yang harus diwaspadai sebagai asal muasal penularan pandemi Covid-19.

Mobilitas peserta didik dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah ketika berangkat dan pulang sekolah, harus diperhitungkan. Karena tidak memiliki kendaraan pribadi, seperti sepeda, sepeda motor, dan mobil, peserta didik menggunakan angkutan umum. Berjalan kaki merupakan pilihan menyehatkan dan memiliki risiko rendah tertular virus corona.

Peserta didik yang diantar dan dijemput orang tua hendaknya mengingatkan orang tuanya agar tidak bergerombol sehingga terkesan ada penggalangan massa. Setelah mengantarkan putra atau putrinya, orang tua lebih baik langsung pulang ke rumah. Sebelum menjemput putra atau putrinya, orang tua juga lebih baik menghindari kerumunan orang.

Bus, metromini, angkot (mikrolet), dan kereta commuterline (KCL) menjadi pilihan untuk berangkat menuju ke sekolah dan pulang ke rumah. Di angkutan umum inilah peserta didik menyandang potensi yang tinggi tertular virus corona. Apalagi pada jam-jam sewa atau jam-jam sibuk pada pagi hari dan sore hari. Mereka akan berebut tempat duduk dengan para pekerja. karyawan, dan pegawai. Mereka berdesakkan dan tak menyadari adanya penularan virus corona.

Bus sekolah merupakan sarana transportasi paling nyaman dan aman. Apalagi jika sudah diatur tempat duduknya dengan menjaga jarak. Namun, tidak semua pemerintah daerah memiliki sarana transportasi bus sekolah. Solusi yang dapat dikerjakan adalah bekerja sama dengan institusi tentara dan polisi. Pemerintah daerah atau dinas pendidikan dapat meminjam dan mengoperasikan bus-bus milik TMI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, dan POLRI untuk mengantarkan peserta didik berangkat ke sekolah dan pulang ke rumah. Tinggal bagaimana mengatur rute yang akan dilalui bus-bus tersebut.

Kecuali itu, peserta didik layaknya mengidentifikasi diri untuk menentukan level wabah corona yang melanda tempat tinggal atau kawasan domisilinya dan sekolah tempat mereka menuntut ilmu. Seperti sudah kita ketahui, ada lima level berkaitan dengan daerah dan hubungannya dengan wabah virus corona. Kelima level tersebut adalah level lima atau warna hitam (zona kritis), level empat warna merah (berat), level tiga warna kuning (cukup berat), level dua warna biru (moderat) dan level satu warna hijau (normal).

Dengan mengetahui level tempat tinggal dan level lokasi sekolahnya peserta didik semakin berhati-hati dan waspada ketika berangkat ke sekolah dan pulang dari sekolah. Lebih baik lagi jika peserta didik mengetahui semua level dari kawasan atau daerah yang dilaluinya. Penguasaan peta wabah virus corona layaknya perlu dilakukan.

ilustrasi: google

Pilihan Lain

Leave a Comment