Juni 22, 2021
nyai pesantren

Seperti Apa sih peran Nyai Pesantren dalam Lika-Liku Perjuangannya?

Lensarakyat.id — Membaca judul di atas, memanglah menjadi pragmatis tersendiri. Bagaimana tidak? Framing agama Islam secara keseluruhan masih menempatkan perempuan dalam kasta nomor dua dibanding laki-laki. Seorang Nyai pesantren, menjadi istri sekaligus pembantu kyai dalam menangani beberapa masalah di pesantrennya. Bisa dikatakan, seorang nyai adalah wakil utama dari kyai itu sendiri.

Mengaca dari pola harakah dan kultur pesantren yang ada di Indonesia, khususnya tanah Jawa, nyai pesantren hanya menempati sebagai ibu rumah tangga dalam keluarga kyai, paling mentok, nyai pesantren menjadi pengajar bagi santri-santri putri sekaligus mengurus ‘dapur’ pesantren. Selain itu, tidak ada lagi tugas-tugas khusus bagi nyai pesantren.

Nyai pesantren, tidaklah memiliki otoritas yang banyak. Berbeda hal dengan kyai. Kyai, apalagi untuk masyarakat yang bernuansa kental keislamannya, menjadi tempat sandaran bagi masyarakat hampir di semua lini. Secara umum, masyarakat memandang bahwa kyailah yang paling berhak menafsirkan teks-teks agama.  Sehingga, setiap perkataan kyai—bagi masyarakat—seakan menjadi perintah Tuhan yang wajib ditaati. Jika nyai pesantren mengambil peran sentral tersebut, maka masyarakat pada umumnya cenderung men-cuekkan dan menganggap tidak absah.

Belum lagi dengan kultur masyarakat Muslim, yang menurut Bianca J. Smith dan Mark Woodward dalam buku Ulama Perempuan Madura karya Hasanatul Jannah, bahwa nyai-nyai pesantren dalam kiprahnya untuk show up di depan umum, secara mendasar mereka mendapat ‘perlawanan’ dari orang-orang Muslim sendiri yang menganut patriarki agama. Maksudnya, kebanyakan orang Muslim memandang bahwa otoritas dan yang berhak memegang tampuk kepemimpinan agama hanyalah laki-laki. Dan hal itu telah menjadi dogma yang mendasar, oleh karena itu jika ada nyai-nyai pesantren yang mau unjuk gigi, lebih dulu mereka akan mendapat stigma sesat, liberal, bahkan kafir sekalipun.

Dalam ranah pendidikan bagi wanita-wanita Muslim juga memiliki banyak kendala. Cukup beda pola pendidikan untuk laki-laki dan perempuan. Laki-laki, benar-benar mendapat akses pendidikan yang cukup mudah dan support yang kuat. Sedangkan, perempuan hanya diajari pengetahuan agama yang dasar dan beberapa keterampilan yang sekiranya dibutuhkan ketika menjadi ibu rumah tangga seperti memasak atau merawat anak. Banyak pula lontaran dari masyarakat maupun tokoh-tokohnya yang mengkerdilkan perempuan, seperti ‘buat apa sih perempuan nyari ilmu tinggi-tinggi, jika ujung-ujungnya ketika sudah menikah hanya menjadi ibu rumah tangga ?’

Dari pola pendidikan yang cukup terbatas, maka wajar jika jarang terdengar suara perempuan yang memiliki prestasi dalam bidang keilmuan. Kebanyakan mereka hanya menjadi ‘makmum’ bagi laki-laki, tanpa ada usaha untuk independen dari hal-hal tersebut. Jadi, bisa dimaklumi jika nyai-nyai pesantren tidak memiliki otoritas yang kuat, karena dari segi keilmuan dan pendidikannya pun terbatas.

Memang, terkadang kultur dan dogma yang ada di masyarakat, menjadi tantangan utama bagi perempuan. Saya kira, penafsiran terhadap teks-teks agama yang berkaitan dengan perempuan perlu dikaji ulang. Biar tidak ada ketimpangan antara perempuan dan laki-laki di ranah sosial, pendidikan, maupun keagamaan. Sehingga kultur masyarakat pun akan semakin terbentuk menuju kultur yang adil bagi perempuan dan laki-laki.

Sejatinya, nyai punya potensi yang besar untuk turut mewarnai budaya Islam di negara kita. Nyai pesantren, yang notabenenya menjadi  representasi ulama perempuan Indonesia, secara nasab dan backrground pendidikannya cukup memadai dibanding perempuan-perempun Muslim lainnya. Dalam kultur Islam Indonesia, jika seseorang lahir dari keluarga yang terpandang, kyai misalnya, maka masyarakat akan menaruh hormat dan pangendikan-nya akan ditaati, dan nyai pesantren memiliki hal itu. Sedari kecil, nyai pesantren sudah dibimbing dan akrab dengan keilmuan Islam, menjadikannya modal untuk bicara di mimbar dan di forum-forum lain.

Yang saya amati, di era zaman ini, kultur masyarakat dan juga aturan negara telah berubah. Tidak ada pembedaan antara pendidikan laki-laki dengan perempuan. Semua setara. Memungkinkan putri-putri kyai untuk mengambil gelar pendidikan setinggi mungkin. Banyak pula putri kyai yang mengambil pendidikan ‘non-agama’ Islam. Semisal kedokteran, psikologi, geologi, politik, atau bahkan teknik sekalipun. Dan, setelah mereka lulus, hanya ada dua pilihan. Antara meneruskan perjuangan kyai dalam membina pesantren, atau meneruskan kiprah dalam kesarjanaan yang diambil.

Saat ini, banyak pula nyai-nyai pesantren yang juga sering bicara di mimbar dan forum umum. Juga memiliki jamaah yang lumayan banyak, entah dari laki-laki atau perempuan. Pelibatannya dalam kegiatan yang berskala  nasional-internasional, menandakan bahwa nyai pesantren mulai unjuk gigi dan menuju kesetaraan terhadap kyai. Bukan hanya mengurus ‘dapur’ pesantren, lebih jauh dari itu, nyai pesantren telah banyak mewarnai khazanah keilmuan dan peradaban Muslim Indonesia.

Saya kira, dengan keikutsertaan nyai pesantren dalam berbagai forum, sebagai awal kebangkitan Islam. Perlu diingat, zaman dulu, ketika Islam jaya dengan peradabannya, tak bisa dipungkiri adanya peran yang vital dan otoritas dari ulama-ulama perempuan.

sumber foto : santrinews

Pilihan Lain

Leave a Comment