Bondowoso| Lensarakyat.id – Panas terik matahari tak menyurutkan langkah. Jalan setapak terjal dengan kemiringan hingga 45 derajat dan debu beterbangan bukanlah halangan. Ini adalah “perburuan” yang berbeda—bukan memburu kejahatan, melainkan memburu hati dan harapan warga di sebuah pedukuhan terpencil kaki gunung putri.
Kapolsek Tegalampel, AKP H. Shobingan, S.H., M.H., bersama jajarannya, dengan susah payah menapaki jalan sempit menuju Dusun Pakel, Desa Klabang, Kecamatan Tegalampel. Di bawah kaki Dataran Tinggi Gunung Putri, dusun dengan sekitar 150 Kepala Keluarga ini menyimpan sebuah mushola sederhana bernama “Baitul Amin”.
Di sanalah tujuan mulia sang Kapolsek: membantu renovasi dan perluasan tempat ibadah yang selama ini menjadi nadi kehidupan spiritual warga.
Lebih dari Sekadar Batu Bata
Bagi warga Dusun Pakel, Mushola Baitul Amin bukanlah bangunan biasa. Selain menjadi tempat menunaikan salat lima waktu, mushola mungil ini menjelma sebagai madrasah darurat bagi anak-anak lingkungan. Di bawah bimbingan Ustadz Mushayin, anak-anak desa belajar mengaji, membaca kitab suci Al-Quran, dan menanamkan nilai-nilai agama.
Namun, keterbatasan ruang membuat aktivitas belajar mengajar kerap terhambat. Dinding yang sempit, atap yang rapuh, dan lantai yang tak lagi layak menjadi pemandangan sehari-hari.
“Akses ke dusun ini sangat berat. Jalanan sempit dan terjal. Siapa pun yang hendak ke sini harus punya konsentrasi ekstra,” ujar salah seorang warga.
Justru di situlah letak makna kehadiran Kapolsek dan anggota Polsek Tegalampel. Dengan penuh semangat, mereka turun tangan membantu renovasi, menggotong material, dan bekerja bahu-membahu bersama warga. Bukan sekadar memberi instruksi, tapi terjun langsung di bawah terik matahari.
Polisi dan Hati Rakyat
Di tengah kesibukan memegang senjata dan menjaga keamanan, AKP H. Shobingan memilih cara berbeda untuk mendekatkan polisi dengan rakyat.
“Tugas utama Polri adalah pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. Itu tak akan terwujud hanya dengan himbauan dan ajakan semata. Kami harus hadir, bekerja nyata, dan peduli dengan kebutuhan warga,” tegas Kapolsek saat ditemui di lokasi pembangunan.
Baginya, memberikan fasilitas tempat ibadah dan belajar yang memadai bagi anak-anak adalah investasi masa depan. “Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Selain pendidikan formal, pendidikan agama sangat penting untuk membentuk akhlak dan budi pekerti yang mulia,” tambahnya.
35 Tahun Mengabdi, Satu Prinsip di Dada
Lahir dari tanah Pacitan, pria kelahiran 1960-an ini telah mengabdi sebagai anggota Polri selama 35 tahun. Dalam setiap tugas yang diembannya, satu prinsip selalu tertanam kuat di dadanya: sebagai Bhayangkara, ia ingin berbuat dan bertindak yang bermanfaat untuk sesama.
“Kami tidak hanya menjaga keamanan dengan kekerasan atau penindakan. Kami juga menjaga keamanan hati dan harapan masyarakat. Di sinilah polisi hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Harapan Baru untuk Baitul Amin
Dengan perluasan mushola, warga Dusun Pakel kini bernapas lega. Ruang belajar yang lebih luas akan memungkinkan lebih banyak anak-anak mendapatkan pendidikan agama. Harapan pun mulai bersemi di tengah dinginnya kaki Gunung Putri.
“Saya sangat bersyukur dengan kepedulian Pak Kapolsek dan jajaran. Semoga Allah membalas kebaikan beliau,” ucap Ustadz Mushayin dengan suara lirih penuh haru.
Renovasi ini bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Ini adalah bukti bahwa tugas seorang polisi tak berhenti di balik meja atau di tengah jalan. Kadang, tugas paling mulia justru ditemukan di lereng gunung yang terjal, di mushola sederhana, dan di hati anak-anak yang haus akan ilmu agama.
Perburuan hati seorang Kapolsek pun menemukan maknanya: kebahagiaan di wajah warga dan senyum anak-anak yang akan terus mengaji di Mushola Baitul Amin.
“Kami Bhayangkara, hadir untuk menjaga, mengayomi, dan melayani. Di mana pun, kapan pun, dan dalam situasi apa pun.” Imbuh AKP H. Shobingan, S.H., M.H.| Bam”s








