Bondowoso| Lensarakyat.id — Warga sekitar TPA Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso, kembali harus menelan pil pahit akibat kebakaran sampah yang tak kunjung padam. Sudah sekitar empat hari, asap tebal dan bau menyengat menyelimuti permukiman warga, memaksa mereka berjibaku dengan udara yang kian hari kian tak sehat.
Keluhan pun datang dari berbagai pihak. VL, salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, mengaku kondisi kali ini jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Saat kemarau memang biasa, tapi sekarang sudah empat hari dan ini yang paling parah,” ujarnya dengan nada pasrah.
Asap yang membumbung tinggi dari tumpukan sampah bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengancam kesehatan. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga serangan asma menjadi momok yang menghantui warga, terutama anak-anak dan lansia. Belum lagi aroma tak sedap yang seolah menjadi “langganan” setiap kali musim kemarau tiba.
Camat Taman Krocok, Edy Mulyono, S.E., M.M., angkat bicara. Ia menegaskan bahwa TPA tersebut sudah overload atau melebihi kapasitas, sehingga tidak lagi layak digunakan. Ironisnya, TPA baru yang berlokasi di Desa Sumber Kokap—yang disebut lebih luas dan representatif—hingga kini belum juga difungsikan.
“Kami sudah sampaikan ke DPRD, bahkan pernah dikunjungi oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut,” tegas Edy, menyiratkan kekecewaan atas lambannya respons pemerintah daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bondowoso, Ir. Henry Kurniawan, S.T., M.M., saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pihaknya masih berupaya melakukan pemadaman. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat, terutama karena tumpukan sampah yang sangat dalam dan luas.
“Kondisi sekarang masih dalam proses penanganan pemadaman api dan asap, yang memang membutuhkan alokasi waktu tidak singkat,” tulisnya dalam pesan singkat selasa (13/10/2026).
Hingga berita ini diturunkan, asap masih terlihat mengepul dari TPA Taman Krocok. Warga berharap ada solusi nyata—bukan sekadar janji—sebelum dampak kesehatan dan lingkungan semakin parah. Mereka menanti langkah konkret dari pemerintah, sebelum “langganan” asap dan bau ini benar-benar merenggut hak mereka atas udara bersih.
Tim Liputan: Bam”s








