Tradisi Bubur Safar: Antara Nilai Sedekah dan Pelurusan Mitos Bulan Sial

BONDOWOSO| LENSARAKYAT.ID — Memasuki bulan Safar dalam kalender Hijriah, sejumlah daerah di Indonesia, khususnya di Bondowoso Jawa Timur, kembali menghidupkan tradisi pembuatan bubur khas, seperti Jenang Sapar atau Tajin Sappar. Tradisi kuliner ini bukan sekadar warisan leluhur, tetapi telah diisi dengan nilai-nilai luhur Islam yang menekankan sedekah, syukur, dan silaturahim.

Tradisi ini merupakan buah dari akulturasi budaya dan dakwah Islamiyah yang dilakukan oleh para ulama Nusantara. Di Madura, hidangan ini dikenal dengan Tajin Mera Pote, perpaduan bubur putih dan kuah gula merah yang sarat akan makna. “Tajin Sappar bukan sekadar bubur khas bulan Safar, tetapi jejak sejarah bagaimana para ulama menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Tradisi ini mengajarkan nilai sedekah, kebersamaan, dan mempererat silaturahmi,” ujar Faiq Nur Fikri, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sumenep .

Dalam pandangan hukum Islam, tradisi ini diperbolehkan selama niatnya diluruskan. Membuat dan membagikan bubur kepada tetangga dan kerabat termasuk amalan sedekah dan berbagi makanan yang sangat dianjurkan . Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Sebaik-baik teman di sisi Allah ialah mereka yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah yang paling baik terhadap tetangganya” .

Warna merah dan putih pada bubur juga menyimpan filosofi mendalam tentang asal-usul kehidupan, melambangkan proses penciptaan manusia dari unsur ayah dan ibu, serta menjadi simbol doa agar diberikan kehidupan yang manis dan penuh berkah .

Yang terpenting, para ulama dan tokoh masyarakat mengingatkan agar tradisi ini tidak dikaitkan dengan keyakinan mistis atau anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan adalah mitos dari zaman Jahiliyah yang telah dibantah oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya), tidak pula tanda kesialan, tidak pula burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar” . Dengan pemahaman ini, tradisi bubur Safar menjadi momentum positif untuk memperbanyak amal kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sebagai ritual penolak bala yang bersifat takhayul .

Oleh Redaksi

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *