BONDOWOSO| Lensarakyat.id – Sebuah video amatir yang memperlihatkan material kotoran sapi dan urine berwarna cokelat pekat meluber ke jalan raya mendadak viral di platform TikTok, Rabu (29/4/2026). Rekaman yang diambil di depan pintu gerbang peternakan sapi perah PT Bumi Kironggo Joyo, Desa Rejoagung, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, itu sontak menuai kecaman warga maya.
Dalam video berdurasi singkat tersebut, tampak aliran air bercampur limbah ternak mengalir deras menerabas badan jalan. Bau menyengat disebutkan oleh perekam video turut menyebar hingga puluhan meter dari lokasi.
Tak butuh waktu lama, warganet langsung membanjiri kolom komentar dengan berbagai tuduhan. Banyak yang menilai perusahaan peternakan gagal mengelola limbah kotoran dan urine sapi dengan baik. Label “lalai” dan “tidak bertanggung jawab” pun disematkan pada PT Bumi Kironggo Joyo.
Namun Kades Rejoagung Buka Suara: Bukan Karena Gagal Kelola, Tapi Faktor Alam
Merespons viralnya tudingan tersebut, Kepala Desa Rejoagung, H. Kusnadi, angkat bicara. Dengan tegas ia membantah klaim bahwa peristiwa itu disebabkan oleh kelalaian atau kegagalan sistem pengolahan limbah perusahaan.
Menurut Kusnadi, kejadian yang sempat menggemparkan warga itu murni dipicu oleh faktor alam dan infrastruktur tanggul yang tengah dalam proses pembangunan.
“Kalau dibilang penampungan limbah jebol itu kurang tepat dan terlalu terburu-buru. Kemarin memang hujan lebat sekali di wilayah peternakan. Di dalam peternakan sedang dibuat tanggul, tapi masih setengah jadi,” jelas Kusnadi kepada wartawan, Kamis (30/4/2026).
Ia menjelaskan, material yang meluber ke jalan raya sejatinya bukanlah limbah mentah dari kandang, melainkan pupuk organik cair yang telah disebar di lahan pertanian milik perusahaan. Setiap hari, kotoran dan urine sapi dialirkan ke area seluas 38 hektare untuk menyuburkan tanaman jagung dan rumput odot.
“Setiap pagi, limbah itu sudah dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik, Nah, pada hari kejadian, sekitar pukul 11.00 WIB, hujan deras turun. Air dari wilayah atas mengalir deras, menggerus pupuk organik yang sudah disebar, lalu meluap karena tanggul yang belum selesai dibangun,” paparnya.
Kusnadi menambahkan, begitu hujan reda, pihak peternakan langsung bergerak cepat membersihkan jalan raya. Hingga kini, kondisi telah kembali normal dan tidak ada lagi gangguan bagi masyarakat sekitar.
“Itu kejadian sesaat saat hujan lebat saja. Bukan rutinitas. Setelah reda, semuanya aman dan tidak mengganggu warga. Kami pastikan perusahaan tetap berkomitmen mengelola limbah dengan baik,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Bumi Kironggo Joyo belum memberikan pernyataan resmi, namun warga sekitar mulai bersikap tenang setelah mendapat penjelasan dari pemerintah desa.







