Program MBG Menjelma Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kerakyatan dan Nafas Kehidupan Buat Warga Kecil

BONDOWOSO| Lensarakyat.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digalakkan pemerintah ternyata tak hanya membuat anak-anak sekolah kenyang dan sehat. Lebih dari itu, program ini telah menjelma menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, khususnya bagi para pengusaha buah lokal di daerah.

Dampak positif itu terasa jelas di Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso. Di balik tersedianya ribuan porsi makanan sehat untuk pelajar, ada denyut ekonomi baru yang dirasakan langsung oleh para pemasok buah-buahan segar dan sembako.

Salah satunya adalah Pk. Aziz (45), warga Kecamatan Curahdami yang sehari-hari berprofesi sebagai pengepul berbagai macam buah dan sayuran. Sejak program MBG bergulir di wilayahnya empat bulan lalu, omzet penjualannya meningkat drastis hingga dua kali lipat.

BACA JUGA :
Tak Hanya SD! Siswa SMP IT Bina Insan Cemerlang Poncogati Juga Kebagian Makan Bergizi Gratis dari SPPG Curahpoh

“Dulu saya hanya mampu menjual 50 kilogram buah per hari ke pasar tradisional. Sekarang, saya rutin mengirim 100 kilogram lebih setiap pagi ke dapur MBG,” ujar Aziz dengan wajah sumringah saat ditemui di rumah sortir buah miliknya, sabtu (24/4/2026).

Tak Ada Lagi Buah Terbuang Sia-sia

Ia mengisahkan, sebelum ada program ini, keluhan utamanya adalah fluktuasi harga yang tak menentu. Saat panen raya, harga buah anjlok drastis. Bahkan tak jarang pisang dan Kelengkeng terpaksa dijual murah atau dibiarkan busuk.

“Kini semua berubah. Program MBG memberi kepastian. Kami punya jadwal tetap, harga yang disepakatan layak, dan yang terpenting, buah-buahan lokal terserap maksimal,” tuturnya.

Tak hanya dirinya, Aziz kini juga memberdayakan 4 tetangganya untuk membantu menyortir dan mengemas buah. Mereka mendapatkan upah harian yang cukup untuk memutar roda ekonomi keluarga.

BACA JUGA :
Aksi Joget Karyawan SPPG Lojajar Bondowoso Jadi Sorotan, Nasim Khan Minta Tindak Tegas Jika Langgar SOP

“Setiap pagi ada empat sampai lima ibu-ibu yang bantu saya. Mereka senang karena dapat penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan rumah terlalu lama,” tambahnya.

Efek Domino bagi Petani dan Pedagang Kecil

Salah satu Owner SPPG di Kecamatan Curahdami, Martha Suprihastini, menjelaskan bahwa pihak sengaja membeli buah dari pemasok lokal. Kebijakan ini diambil untuk memangkas rantai distribusi sekaligus menggerakkan ekonomi warga setempat.

“Kami bekerja sama dengan pengepul seperti Bpk. Aziz, Mereka yang kemudian membeli langsung dari petani di sekitar Curahdami dan wilayah Bondowoso. Alhasil, petani juga diuntungkan karena harga beli dari pengepul lebih stabil,” jelas Martha.

BACA JUGA :
Viral Joget di Dapur SPPG Lojajar, Komentar ‘Lanjutkan’ dari Kepala SPPG Malah Picu Amarah Publik

Ia mencontohkan, harga pisang Ambon yang biasa hanya Rp750 per biji di tingkat petani saat panen raya, kini bisa bertahan di angka Rp1.000 hingga Rp2.000 per per biji karena permintaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk MBG yang terus menerus.

Harapan untuk Keberlanjutan

Aziz berharap program ini tidak berhenti di tengah jalan. Baginya, MBG bukan sekadar proyek sosial, melainkan nafas kehidupan bagi warga kecil seperti dirinya dan para petani buah di Bondowoso.

“Ini bukan hanya soal anak-anak makan bergizi. Ini soal ibu/Bapak punya kerja, soal petani tidak rugi, soal ekonomi desa bergerak. Kami berharap program ini terus jalan dan bahkan diperluas,” pungkas Aziz sambil kembali memeriksa karung-karung buah yang siap diantar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *